Penjelasan Surat Albaqoroh Ayat 81-83


Alquran / Doc abiummi.com
AYAT 81 – 83 SUROH AL-BAQOROH
Oleh: Kang Misbah

بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَؤُلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ

(Ora ngono toh) Hiya bakal langgeng ing neraka
Utawi sing sopone wong lamon migawe sopo man
Ing kelakuan ala
Lan ngeliputi
Ing man
Opo keluputane man Mangka utawi mengkono-mengkono man
Iku piro-piro wong kang nduweni neraka

هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  (81)

Utawi ashchabunnari
Ingdalem annaar
Iku piro-piro wong kang pada langgeng

(81). (Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan dosanya telah meliputinya, maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Qodliyah ayat ini bisa kita simpulkan, bahwa orang yang berbuat dosa, dan dosanya telah meliputinya, adalah dia tidak taat kepada Alloh dan Rosu-Nya. Oleh sebab itu, supaya kita senantiasa taat Alloh dan Rosul-Nya tersebut, maka kita harus menerapkan akhlak DAWAMUTH THOOATI (taat secara intensif) baik taat secara Vertikal maupun secara Horizontal.

وَالَّذِينَءَامَنُواوَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ ؤُلَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(82)

Lan utawi wong akeh
Kang pada iman sopo alladziina
Lan nglakoni sopo alladziina
Ing piro-piro amal bagus
Iku utawi mengkono-mengkono alladziina
Iku piro-piro wong kang nduweni suarga
Iku utawi ula,ik
Ingdalem al-jannah Iku piro-piro wong kang pada langgeng

(82). Dan orang-orang yang beriman serta beramal soleh, mereka itu penghuni surga, sedang kondisi mereka kekal di dalamnya.

Qodliyah ayat ini dapat kita pahami, bahwa orang yang beriman dan beramal soleh, adalah hamba Alloh yang sangat taat kepada-Nya, sehingga dia menjadi penghuni surga dalam kondisi kekal di dalamnya. Oleh sebab itu, supaya kita bisa seperti dia, maka kita harus menerapkan akhlak ITTICHAADIT TAQWA BILJIHATI (menyatukan takwa dengan arah) yang menuju kepada Alloh dan Rosul-Nya dimanapun kita berada.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Lan nalikane ngalap sopo ingsun
Ing janjine bani isro,il
Tegese aja pada nyembah sopo siro kabeh
Anging ing gusti Alloh
Lan ing wong tua loro
Kelawan gawe bagus temenan

وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًاوَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

Lang ing wong kang nduweni piro-piro kerabat
Lan piro-piro bocah yatim
Lan piro-
piro wong miskin
Lan pada ngucapa sopo siro kabeh
Marang menungsa
Kelawa ucapan kang bagus temenan
Lan pada njenegna sopo siro kabeh
Ing solat

وَءَاتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (83)

Lan ngewehna sopo siro kabeh
Ing zakat
Mangka nuli pada
mlengos sopo siro kabeh
Anging satitik banget
Saking siro kabeh
Tegese hale utawi siro kabeh
Iku piro-piro wong kang pada emoh sopo siro kabeh

(83). Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Alloh, dan berbuat baiklah dengan sungguh-sungguh kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu berpaling (tidak memenuhi janji itu), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu selalu berpaling.

Kata miitsaaq menurut bahasa ialah al-ahdul mu,akkadu bil yamiini ghooyatatta,kiidi (perjanjian yang dikuatkan dengan sumpah hingga klimaks kekuatannya). Kata chusna ialah ismun aammun jaamiun limaaanil khoiri (kata benda umum yang mengumpulkan arti-arti bagi seluruh kebajikan). Seperti santun, lembut, akhlak mulia dan sebagainya. Dua kata tawalli dan Iroodl mashdar dari kata tallaitum dan muridluun ialah mempunyai arti yang sama. Yaitu, berpaling. Akan tetapi berbeda dalam tempatnya. Yani, kata tawalli tempatnya di dalam jismani. Sementara kata I’roodl tempatnya di dalam hati.

Kalimat laa ta’buduuna illalloha menurut disiplin ilmu nahwu disebut kalam khobar (indikatif/perkataan informatif), tetapi menggunakan ma’na kalam nahyi (imperatif/verba yang menyatakan larangan atau keharusan melaksanakan perbuatan). Oleh sebab itu, diterjemahkan dengan kalimat janganlah kamu menyembah selain Alloh. Kemudian, jumlahnya lafal laa ta’buduuna illalloha ialah sebagai tafsir atau penjelasan dari lafal miitsaaq. Ya’ni, isinya miitsaaq ialah ada empata poin. Yaitu:

1. laa ta’buduuna illalloha (janganlah kamu menyembah selain Alloh).
2. wabil waalidaini ichsaana wadzil qurbaa wal yataamaa walmasaakiini (dan berbuat baiklah dengan sungguh-sungguh kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin).
3. waquuluu linnaasi chusna (serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia).
4. wa aqiimushsholaata wa aatuzzakata (dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat).

Empat poin ini tidak diperhatikan oleh kebanyakan dari Bani Israil yang isinya tidak lain adalah orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu, ayat ini diakhiri dengan kalimat tsumma tawallaitum illaa qoliilam mingkum wa angtum mu’ridluun (Kemudian kamu berpaling (tidak memenuhi janji itu), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu selalu berpaling).

Qodliyah tsumma tawallaitum illaa qoliilam mingkum wa angtum mu’ridluun, ialah bisa kita mengerti, bahwa kebanyakan dari Bani Israil adalah membangkang pada perintah Alloh dan Rosul-Nya. Oleh sebab itu, supaya kita tidak seperti mereka, maka kita harus menerapkan akhlak CHIFDHUL A’DLO,I ‘ANIL MA’SHIYATI (menjaga organ tubuh kita supaya tidak maksiat) kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Silahkan share kepada siapa saja yang anda mau, semoga kita termasuk orang yang berda’wah di jalan Alloh. Aamiin.

Posting Komentar