Nasib Anak Disabilitas Hingga Kini Masih Terpinggirkan

Ilustrasi Bergambar Disabilitas 

Setiap anak dilahirkan dimuka bumi ini harus hidup, itulah salah satu bunyi dalam konvensi hak anak. Namun ada pula anak yang lahir hidup dalam kondisi normal, cacat bawaan, tidak normal bisa fisiknya, atau ada gangguan pada motoriknya. Pertumbuhan dan Perkembangan mereka berbeda-beda. Semua orang tua ingin mengharapkan anak yang telah dilahirkan dalam kondisi tumbuh kembangnya sehat, pinter, ceria dan berakhlaqul karimah. Namun faktanya, disetiap desa/kampung mesti dijumpai anak yang mengalami difabel dan disabilitas.  

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, pada 2010 tercatat jumlah penyandang disabilitas mencapai sekira 9.046.000 jiwa dari sekira 237 juta jiwa. Jika dikonversi dalam bentuk persen, jumlahnya sekira 4,74 persen. Angka ini setiap tahun diperkirakan naik, seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah. 

Difabel dan Disabilitas secara umum adalah sama yaitu sebutan bagi orang yang memiliki kemampuan fisik dan mental yang tidak normal sebagaimana layaknya orang normal. Namun penggunaan istilah difabel dan disabiltas menimbulkan pro kontra baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Difabel adalah sebutan bagi orang yang memiliki perbedaan kemampuan secara normal atau layak. Kata difabel merupakan akronim dari different abilities people (yang kemudian di Indonesia-kan menjadi difabel) digunakan dengan tujuan untuk memperhalus kata-kata atau sebutan bagi seluruh penyandang cacat sebagai pengganti dari kata cacat.

Sedangkan Disabilitas adalah suatu ketidakmampuan tubuh dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan tertentu sebagaimana orang normal. Kata disabilitas berasal dari dari kata Disability (yang kemudian di Indonesia-kan menjadi disabilitas) juga digunakan untuk sebutan bagi penyandang cacat.

Disabilitas merupakan suatu ketidakmampuan tubuh dalam melakukan suatu aktifitas atau kegiatan tertentu sebagaimana orang normal pada umumnya yang disebabkan oleh kondisi ketidakmampuan dalam hal fisiologis, psikologis dan kelainan struktur atau fungsi anatomi. Dahulu disabilitas lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan penyandang cacat.

Disabilitas sekarang ini sudah tidak lagi menggunakan istilah penyandang cacat, namun telah diganti dengan istilah penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas merupakan orang yang mempunyai keterbatasan mental, fisik, intelektual maupun sensorik yang dialami dalam jangka waktu lama. Ketika penyandang disabilitas berhadapan dengan hambatan maka hal itu akan menyulitkan mereka dalam berpartisipasi penuh dan efektif dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan kesamaan hak.

Mengutip dalam portal bisamandiri.com (2015) Disabilitas memiliki beberapa jenis dan bisa terjadi selama masa hidup seseorang atau sejak orang tersebut terlahir ke dunia. Jenis-jenis disabilitas tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Disabilitas Fisik

Disabilitas fisik merupakan gangguan pada tubuh yang membatasi fungsi fisik salah satu anggota badan bahkan lebih atau kemampuan motorik seseorang. Disabilitas fisik lainnya  termasuk sebuah gangguan yang membatasi sisi lain dari kehidupan sehari-hari. Misalnya saja gangguan pernapasan dan juga epilepsy.

2. Disabilitas Mental

Istilah disabilitas mental biasanya sering digunakan pada anak-anak yang memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Akan tetapi tidak hanya itu saja, disabilitas mental juga merupakan sebuah istilah yang menggambarkan berbagai kondisi emosional dan mental. Gangguan kejiwaan adalah istilah yang digunakan pada saat disabilitas mental secara signifikan mengganggu kinerja aktivitas hidup yang besar, misalnya saja seperti mengganggu belajar, berkomunikasi dan bekerja serta lain sebagainya.

3. Disabilitas Intelektual

Disabilitas intelektual merupakan suatu pengertian yang sangat luas mencakup berbagai kekurangan intelektual, diantaranya juga adalah keterbelakangan mental. Sebagai contohnya adalah seorang anak yang mengalami ketidakmampuan dalam belajar.  Dan disabilitas intelektual ini bisa muncul pada seseorang dengan usia berapa pun.

4. Disabilitas Sensorik

Disabilitas sensorik merupakan gangguan yang terjadi pada salah satu indera. Istilah ini biasanya digunakan terutama pada penyandang disabilitas yang mengacu pada gangguan pendengaran, penglihatan dan indera lainnya juga bisa terganggu.

5. Disabilitas Perkembangan

Disabilitas perkembangan merupakan suatu disabilitas yang menyebabkan suatu masalah dengan pertumbuhan dan juga perkembangan tubuh. Meskipun istilah disabilitas perkembangan sering digunakan sebagai ungkapan halus untuk disabilitas intelektual, itilah tersebut juga mencakup berbagai kondisi kesehatan bawaan yang tidak mempunyai komponen intelektual atau mental, contohnya spina bifida.

Disabilitas Masih Terpinggirkan
Hampir mayoritas anak-anak yang mengalami disabilitas itu mengalami problem yang sangat kompleks, mereka sering tidak mengenyam jenjang pendidikan, karena sebaran sekolah khusus disabilitas sangat terbatas, ambil contoh saja di Kabupaten Brebes, dengan sekolah khusus disabilitas ini menjadi wewenang provinsi, maka nasib anak disabilitas banyak yang kesulitan untuk mengakses pendidikan, jika pun ada difasilitasi sekolah, jarak antara rumah dengan sekolah sangatlah jauh, belum lagi jika mereka dalam kondisi lumpuh, belum memiliki kursi roda dengan keluarga yang tidak mampu. 

Anak yang difabel atau disabilitas itu rentan sekali terkena penyakit, apabila fisiknya lemah, maka mudah cepat sakit, dan aktivitas mereka pun terbatasi, mau bermain dengan teman sebaya hanya bisa melihat dan menonton saja, untuk bermain pun mereka nyaris tidak ada. Mereka lebih banyak dirumah, dan menonton televisi. 

Kebijakan Pemerintah daerah terhadap anak yang difabel dan disabilitas ini pun tidaklah banyak diharapkan lebih, karena tidak ada angka prosentase anggaran yang responsif terhadap anak yang berkebutuhan khusus ini. cenderung anggaran untuk nasib mereka lebih dominan pada anak-anak normal dibandingkan dengan anak yang berkebutuhan khusus ini. 

Responsibilitas Kebijakan Daerah 

Melihat kondisi anak disabel dan disabilitas ini masih terpinggirkan, maka perlu ada keadilan terhadap nasib mereka. Mestinya tidak ada perbedaan dalam pelayanan pendidikan, baik itu akses ketersediaan sarana dan prasarana dan ketersediaan guru untuk mengajarkan anak-anak yang berkebutuhan khusus ini. 

Belum lagi diaspek kesehatan, bila anak yang mengalami disabel atau disabilitas belum punya BPJS atau KIS dan mereka dari keluarga yang tidak mampu (KSM) maka dapat dibayangkan nasib anak tersebut, pemerintah daerah harus mau mengedepankan atau memprioritaskan kepemilikan kartu BPJS atau KIS kepada mereka, kerentanan anak yang disabilitas ini sering kali tidak mempunyai teman sebaya atau teman bermain disekitar rumahnya, karena keterbatasan fisiknya maka diperlukan ada bantuan alat peraga atau alat bermain yang memudahkan bagi mereka untuk beraktivitas sesuai dengan kondisi fisiknya, mereka juga rentan saat menginjak dewasa, teman sebaya nya sudah mulai berkeluarga, anak yang sudah menginjak dewasa inipun nyaris dapat pasangan yang cocok, disaat mereka harus bekerja pun kadang faktor fisik dan keterbatasan ini menjadi pemicu kegagalan dalam berusaha.  semoga ada responsibilitas kebijakan kab/kota yang pro terhadap nasib anak disabel atau disabilitas. 

Posting Komentar