Sepinya Penumpang Angkutan Pedesaan, Layakkah di Lanjut

Transportasi Pedesaan seperti angkot sekarang kondisinya sangat berbeda jauh dengan 15 tahun yang lalu, para supir ikut mengeluh dengan dahsyatnya pembelian sepeda motor dan juga adanya ojeg online yang tumbuh subur di beberapa kota di Indonesia. Mereka sangat merasakan betapa sepinya mencari penumpang, belum lagi penumpang sekarang sangat dimanjakan dengan hadirnnya transportasi go jek yang sudah bak menjamur. 

Jika lihat angkutan pedesaan yang berada di daerah pegunungan, rata-rata pemakai paling banyak adalah penumpang anak sekolah, supirpun tidak mengindahkan aturan berapa isi sebenarnya angkutan tersebut, puluhan anak dibiarkan naik angkot walaupun di atas kendaraan, padahal ini sangatlah berbahaya, namun belum ada upaya dari sisi pemerintah untuk menanggulangi persoalan ini. Sepertinya kita hanya bisa melihat fenomena yang ada, ketika disaran anak sekolah dipegunungan harus menggunakan kendaraan sepeda motor, itupun bahayanya mengancam nasib anak tersebut. Mereka harus belajar motor dengan trampil dan saat rem motornya blong dapat dibayangkan betapa paniknya anak tersebut, padahal sisi kanan kirinya jurang. 
Foto dari Jepretbanjarnegara.wordpress.com  

Mobil angkutan pedesaan pun rata-rata keluaran tahun lama, mereka harusnya peremajaan kendaraan, namun karena terbatasnya keuangan bagi pemiliknya, sehingga mesinnya lama, tapi bodi mobilnya yang di buat sedikit baru, padahal ini juga sangat berpotensi pada masalah kenyamanan penumpang. sering terjadi mogok di tengah jalan karena status kendaraannya yang sekian lama berumur tua. 

Tarif angkot memang dibilang murah, namun karena sepinya penumpang sehingga supirpun untuk menutup setoran kepada pemilik mobil sekian hari menumpuk karena target yang diberikan dari pemilik mobil kadang tidak tercapai. Akhirnya pemilik mobilpun tidak sabar melihat keadaan dan kondisi pemasukan kendaraan angkutan pedesaan ini, mereka akhirnya menjual kendaraan tersebut dan menggantikan dengan bisnis lainnya yang menurutnya menguntungkan. 

Angkutan pedesaan itu bukti transportasi bagi warga miskin, kenapa dikatakan demikian, karena sebagaian besar penumpang kendaraan ini adalah orang yang berada digaris kemiskinan, karena mereka tidak memiliki kendaraan bermotor, tidak mampu membeli mobil pribadi, akhirnya mencari angkutan pedesaan ini sebagai sarana transportasi yang layak baginya. Wajarlah jika naik kendaraan ini harus menunggu lama, penumpang harus sabar dan tidak menggunakan AC, suara angkot pun tidak sebagus saat masih baru. 

Penulis berasumsi bahwa angkutan pedesaan sebenarnya masih diminati oleh kalangan masyarakat banyak, namun kondisinya sekarang sangatlah berbeda dan kecenderungan masyarakat untuk memilih alternatif kendaraan lain sangat memungkinkan. Semakin banyak transportasi online yang nanti akan menjamur, maka nasib angkutan desa akan semakin terpuruk, disinilah kehadiran pemerintah untuk menanggulangi problematikan transportasi ini. semoga ada jalan menuju penyelesaian terhadap transportasi pedesaan ini. 

INspirasi pagi saat melihat angkutan pedesaan di pasar induk Brebes, Jumat (13/10/2017) 

Posting Komentar