Santri Penerus Ulama Kini

Ada seorang anak diusia 9 tahun kok bisa membaca alquran dengan tartil, mah'rojul huruf pun sempurna, dan paham ilmu tajwid itu tidak lain karena ada kemauan dari orang tuanya yang selalu menjaganya dan mengistiqomahkan setiap bada magrib belajar alquran. jika orang tuanya tidak mengajarkan, dimungkinkan anak tersebut disuruh untuk belajar di majlis taklim dimana ustad atau ustadzahnya mau mengamalkan ilmunya kepada para generasi disekitarnya agar bisa membaca alquran dengan baik dan benar. Mereka diajarkan dari baca iqro jilid 1 hingga sampai khatam jilidnya. 


Santri Penerus Ulama Kini - Foto klikkabar.com

Pemandangan mengaji pada saat bada magrib bagi orang yang hidup di desa atau kampung tampak begitu jelas dan dipastikan semua majlis taklim, rumah guru ustad/ustadzah, di musholla atau bisa dimasjid terisi penuh anak-anak kecil yang ingin belajar dengan gurunya. Begitu ikhlas guru ngajinya mengajarkan tahapan demi tahapan. Namun sangat beda sekali ketika berada dikehidupan perkotaan, sudah mulai berkurang, anak-anak yang harus mengaji saat ba'da magrib, namun karena dibiarkan belajar untuk pendidikan umum terus, akhirnya hingga dewasa anak ini nyaris mampu membaca juz'ama apalagi alqur'an. Anak ini akan merasakan rasa kekecewaan disaat menjelang dewasa, biasanya usia dewasa agak sulit untuk penyesuaian lidahnya disaat belajar ma'rojul huruf, belum lagi kesibukan belajar ilmu umum, akhirnya saat sudah mau usia lanjut dirinya merasakan minder yang begitu berat, kenapa saat masih kecil kok dulu tidak belajar membaca alqur'an, padahal kesempatan dan waktunya ada. 

Saat seorang guru ngaji di majlis ta'lim ataupun berada ditempat-tempat ibadah dan mengajarkan baca tulis alqur'an dipastikan guru tersebut dulunya pernah mengenyam pendidikan madrasah diniyah atau pernah menjadi santri di salah satu pondok pesantren, ada yang tamat di jenjang pendidikan madrasahnya, ada juga yang tidak tamat madrasah, karena harus pindah sekolah ditempat pendidikan umum. Namun bekal anak yang telah dididik dari masa kecil hingga remajanya dengan basic pendidikan agama dan umum, mereka cepat melakukan penyesuaian terhadap lingkungan dan mau untuk mengajarkan ilmu agamanya dimana dibutuhkan pikiran dan tenaganya. 

Seorang santriwan santriwati dituntut untuk siap menghadapi tuntutan lingkungan saat dia berkiprah,  karena bekal mereka saat belajar dengan tekun dan mau mengikuti jejak ulamanya yang saat itu mengajarkan dengan sabar, ikhlas dan juga rasa tanggungjawab dalam menyebarkan ilmu dan juga mengajarkan budi pekerti yang baik bagi santrinya, akan berbuah manfaat bagi santri saat mengamalkan baktinya kepada masyarakat. Sikap, watak dan budi pekerti santri yang pernah belajar di pondok pesantren maka akan sama saat dia mengamalkan dalam kehidupan sehari-harinya. Seorang santri saat belajar dipondok pesantren diharapkan untuk sungguh-sungguh dalam belajarnya  termasuk mau berkiprahnya saat menjadi pengurus atau menjadi guru ngaji saat di pondok pesantren, jika ini dia lakukan dan mau mengabdi dengan sungguh-sungguh, maka saat hidup bermasyarakat, dia tidak akan canggung atau minder untuk mengamalkan ilmunya.

22 Oktober 2017 diperingati sebagai hari santri, semoga mereka yang sedang belajar di lembaga pesantren atau pun mereka yang pernah nyantri dan mau mengamalkan ilmunya menjadikan introspeksi baginya bahwa ilmu yang pernah dipelajarinya bisa bermanfaat untuk orang lain, dan menjadikan lingkungan sekitarnya sebagai wadah untuk memperjuangkan syiar islam, generasi yang diajarkan menjadi generasi yang berakhlaqul karimah dan mampu meneruskan perjuangan para ulama terdahulu untuk selalu berjuang hingga titik darah penghabisan dalam rangka mengamalkan ilmunya, sehingga generasi yang ditinggalkan tidak menjadi generasi yang lemah, tapi benar-benar menjadi generasi yang sehat, cerdas dan berakhlaqul karimah dan mampu menjadi pondasi agama yang kuat bagi keluarganya, lingkungan dan negara dan bangsanya. " Selamat Hari Santri, Amalkanlah ilmumu dengan ikhlas tanpa ada pamrih ". Sabtu (21/10/2017) 


Posting Komentar