Ratusan Ribu Kepala Keluarga di Brebes Belum Punya Jamban

Kemajuan Brebes berdasarkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat  (STBM) Indonesia 

Miris sekali kondisi cakupan jamban di Kabupaten Brebes, hingga Oktober 2017 tercatat dalam  data Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Indonesia di Kabupaten Brebes ratusan ribu kepala keluarga tidak memiliki jamban. Ada 69,37 persen atau ada sebanyak 176.612 dari total 536.511 Kepala Keluarga yang tidak memiliki Jamban. 

Bila rumah yang memiliki jamban melebihi 80% dari jumlah rumah yang ada, berarti wilayah tersebut termasuk wilayah yang cukup baik dalam hal pembuangan kotoran manusia. Alasan utama yang selalu diungkapkan masyarakat mengapa sampai saat ini belum memiliki jamban keluarga adalah tidak mempunyai uang. Sebenarnya tidak adanya jamban di setiap rumah tangga bukan semata faktor ekonomi, tetapi lebih kepada belum adanya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). 

Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masyarakat. Di suatu wilayah ada rumah yang sudah memiliki jamban, ada yang belum memiliki jamban. Perlu ada gerakan mobilisasi masyarakat dalam rangka kepemilikan jamban sehat keluarga. Pemerintah Kabupaten harus hadir dalam rangka ikut serta memenuhi fasilitas jamban keluarga tersebut. Pemanfaatan jamban keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan kebiasaan masyarakat. 

Ada beberapa syarat jamban yang sehat sesuai kaidah-kaidah kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Tidak memncemari sumber air minum
b. Tidak berbau tinja dan tidak bebas  dijamah oleh serangga maupun tikus.
c. Air seni, air bersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah sekitar olehnya itu lantai sedikitnya berukuran 1 X 1 meter dan dibuat cukup landai, miring kearah lobang jongkok.
d.  Mudah dibersihkan dan aman penggunaannnya.
e. Dilengkapi dengan dinding dan penutup
f. Cukup penerangan dan sirkulasi udara.
g. Luas ruangan yang cukup
h. Tersedia air dan alat pembersih.

Setiap kepala keluarga yang akan membangun jamban maka hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan jamban yang sehat : 
1.  Kondisi daerah, datar atau miring
2.  Tinggi rendahnya permukaan air
3.  Arah aliran air tanah
4.  Sifat, macam dan struktur tanah

Penggunaan atau pemeliharaan jamban yang baik adalah kotoran yang masuk hendaknya disiram dengan air yang cukup, hal ini selalu dikerjakan sehabis buang tinja sehingga kotoran tidak tampak lagi. Secara periodic Bowl, leher angsa dan lantai jamban digunakan dan dipelihara dengan baik, sedangkan pada jamban cemplung lubang harus selalu ditutup jika jamban tidak digunakan lagi, agar tidak kemasukan benda-benda lain.

Dampak jamban yang tidak sehat akan mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit penyakit seperti : Diare, Typhus, Muntaber, Disentri, Cacingan,  Gatal-gatal, Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika.

Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan  satu bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika.

Pemeliharaan jamban keluarga sehat yang baik adalah lantai jamban hendaknya selalu bersih dan tidak ada genangan air, bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang  jamban selalu dalam keadaan bersih, didalam jamban tidak ada kotoran terlihat, tidak ada serangga(kecoa, lalat) dan tikus berkeliaran, tersedia alat pembersih dan bila ada kerusakan segera diperbaiki. 

Posting Komentar