Lahan Pertanian Berkurang, Ancam Stok Pangan


Hari Pangan Sedunia ditetapkan pada 16 Oktober 2017, pantauan penulis di sejumlah media massa dibeberapa kabupaten/kota, mereka memfasilitasi kegiatan dalam upaya hari pangan sedunia. Tujuan fasilitasi tersebut ikut mendukung ketersediaan pangan yang berkecukupan, bergizi seimbang dan beranekaragam varietasnya. Namun berdasarkan pengamatan penulis dalam puluhan tahun ini, ternyata ada ancaman yang cukup serius yang harus disikapi oleh Pemerintah dan warganya terhadap stok pangan di Indonesia. 

Lahan Pertanian semakin berkurang, Alih fungsi lahan menjadi Ancaman Stok Pangan
Ancaman serius antara lain laju pertambahan penduduk kian hari sekian bertambah, belum lagi lahan pertanian sudah banyak yang beralih fungsi, dari lahan produktif berubah menjadi lahan bisnis baik itu untuk perumahan, industri maupun bentuk lainnya. sisi yang lain juga ada fenomena merosotnya jumlah tenaga kerja yang bergerak di bidang pertanian, belum lagi ongkos produksi budidaya di lahan pertanian bukannya menurun, tapi sangat sulit dikendalikan. jika ini dibiarkan akan menjadi ancaman serius dari pemerintah pusat, provinsi dan daerah serta komponen masyarakat dalam rangka mencukupi ketahanan pangannya. 

Berkurangnya jumlah penduduk yang bekerja disektor pertanian dipicu beberapa faktor, antara lain tidak stabilnya harga jual dan juga susahnya pemasaran produk pertanian, lahan yang dikelola pun mengalami kesulitan air karena stok ketersediaan air juga semakin berkurang, belum lagi harga ongkos produksi semakin mahal, mencari pekerja yang mau bekerja mengelola lahan pertanian semakin sulit, disaat panen raya pun semisal panen padi, untuk mencari orang yang mau memanen (derep) pun semakin susah, ini akan menjadi persoalan serius terhadap ketersediaan pangan, belum lagi penduduk yang produktif enggan untuk bekerja di sektor pertanian, mereka lebih memilik sektor jasa atau industri. 

Fenomena Konversi lahan pertanian yang seakan tak ada hentinya, yang berdampak pada terbatasnya atau semakin sempitnya lahan yang bisa dikelola, guna menghasilkan diversifikasi pangan yang dibutuhkan manusia. Selain itu, adanya faktor iklim yang setiap saat bisa saja mengalami perubahan, sehingga hal ini pun akan berimplikasi pada keseimbangan ekosistem, yang pada akhirnya juga berpengaruh terhadap hasil produksi pertanian.

Perlu ada terobosan terkait pembangunan ketahanan pangan,  dimana Pemerintah Daerah harus mencarikan terobosan agar ketersediaan pangan yang terbilang cukup, bergizi, aman dikonsumsi bagi anggota rumah tangga, serta memiliki harga yang terjangkau. Tentu saja untuk mewujudkan ini sudah barang tentu memerlukan upaya dan kerja keras seluruh elemen masyarakat. Karena itu pula sepertinya penting juga kalau dikembangkan suatu program diversifikasi pangan yang diharapkan dapat mendukung ketersediaan pangan yang memadai bagi warga masyarakat.

Disamping itu, ada juga beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjaga ketahanan pangan. Umpamanya saja pentingnya dilakukan kontrol, guna menjaga stabilitas harga pangan yang amat dipengaruhi oleh ketersediaan pangan yang cukup, memperhatikan tingkat kemampuan masyarakat dalam mengakses kebutuhan pangan, serta kualitas pangan yang dihasilkan haruslah dinilai sangat baik agar kebutuhan akan gizi bagi masyarakat dapat terpenuhi. Apalagi kita mengetahui kalau produk pangan seperti beras masih dianggap sebagai suatu produk yang sifatnya strategis, meski tetap dilakukan upaya pengembangan pangan sumber karbohidrat non beras, yang mana dalam pengembangan keanekaragaman pangan tentu tetap berbasis pada keragaman sumber daya yang ada.

Pasalnya konsep ketahanan pangan tak hanya terbatas pada terpenuhinya kebutuhan pangan yang aman bagi kesehatan manusia, namun yang penting pula diperhatikan yaitu bahwa pangan yang cukup itu bersumber dari tanaman, hasil ternak, dan ikan yang di dalamnya terkandung unsur protein, karbohidrat, dan lemak yang sangat diperlukan bagi tubuh manusia.

Sebenarnya, upaya penanekaragaman ini telah melalui sebuah proses yang panjang, dan ini dapat diamati ketika pemerintah menggalakkan program intensifikasi, serta pembukaan lahan yang dikenal dengan program padi sentra tahun 1958, yang mana kegiatan terus berlanjut hingga munculnya Inpres No 14/1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat.

Upaya tersebut terus berlanjut hingga dirumuskannya acuan pencapaian pola konsumsi pangan, sesuai pola pangan harapan. Umpamanya mencapai skor 100 pada 2020, dengan perencanaan produksi pangan dengan mutu yang baik dan semakin beragam serta seimbang komposisinya, sehingga bukan cuma gizinya yang cukup, tetapi juga didukung daya terima, cita rasa, dan daya beli masyarakat. Inspirasi penulis pagi hari, Selasa (17/10/2017)

Posting Komentar