Cuci Tangan Pakai Sabun, Gampang diucapkan, Sering Terlupakan

CTPS Bisa Menurunkan Kasus Diare dan ISPA


Tanggal 15 Oktober telah ditetapkan PBB sebagai Hari Cuci Tangan Sedunia. Artinya, seluruh dunia melaksanakan gerakan cuci tangan memakai sabun dan air bersih. Namun sebagian orang lupa kalau saat mau makan saja, enggan untuk cuci tangan pakai sabun, apalagi air untuk membasuhnya mengalir. contoh yang sering terjadi dan masih dipertahankan, saat kita makan di warung makan seafood lamongan atau seafood yang di emperan jalan. Para penikmat kuliner ini hanya dikasih sama pemilik warung masakan yang dipesan, lalu di kasih satu mangkok air putih dikasih bekas buah jeruk yang diiris-iris, jarang sekali ditemui warung makan lamongan menyediakan air mengalir untuk cuci tangan pakai sabun. 

Belum lagi saat melihat anak sekolah membeli jajan di kantin sekolah, atau depan sekolah ada pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya, anak habis olahraga, langsung saja berlari-lari sambil membawa uang dua ribu untuk membeli jajan dan es marimas. jarang sekali mereka sebelum makan cuci tangan pakai sabun, dibilang suruh cuci tanganpun, memilih cuci tangan tanpa sabun. 

CTPS Berkontribusi Menurunkan Kasus Diare

Kebiasaan untuk melakukan cuci tangan pakai sabun ternyata bisa menurunkan kasus diare dan ispa. Mengutip dari portal http://mommiesdaily.com, Dr. Wani Devita Gunardi, SpMK, ahli mikrobiologi dari Eka Hospital mengatakan, ternyata cara mencuci tangan seperti diatas, bisa Menurunkan kasus penyakit diare sebanyak 31%, mengurangi angka kesakitan akibat diare pada pasien imunokompromis hingga 58%, Menurunkan penyakit ISPA sampai 45% dan 0.5-0.8 per mil kasus hidrocephalus dan 1% kasus kelainan jantung bawaan diketahui berhubungan dengan kebersihan diri dan lingkungan di saat hamil yang bisa dicegah dengan kebiasaan CTPS.

Penelitian terbaru dalam Journal of Environmental Research and Public Health menemukan, saat seseorang mencuci tangannya dengan sabun dan air menghilangkan 92% organisme (penyebab penyakit infeksi) di tangan.

Untuk keadaan darurat, hand sanitizer apa masih layak dipakai? Bila tangan tidak nyata-nyata terlihat kotor, boleh-boleh saja kata dr. Wani. Tapi kalau tangan sangat kotor, tetap harus menggunakan air mengalir dan sabun walau tidak harus sabun yang berembel-embel anti bakteri atau anti septik.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) pun membuat panduan cara cuci tangan yang memenuhi standar kesehatan dengan memaksimalkan area tangan yang dibersihkan. Tahap-tahapnya adalah:

12 langkah cuci tangan sesuai standar yang telah ditetapkan oleh WHO

1. Basahi kedua tangan dengan air mengalir.
2. Beri sabun secukupnya.
3. Gosok kedua telapak tangan dan punggung tangan.
4. Gosok sela-sela jari kedua tangan.
5. Gosok kedua telapak dengan jari-jari rapat.
6. Jari-jari tangan dirapatkan sambil digosok ke telapak tangan, tangan kiri ke kanan, dan sebaliknya.
7. Gosok ibu jari secara berputar dalam genggaman tangan kanan, dan sebaliknya.
8. Gosokkan kuku jari kanan memutar ke telapak tangan kiri, dan sebaliknya.
9. Basuh dengan air.
10. Keringkan tangan dengan tisu (handuk tidak direkomendasikan karena lembab terus menerus malah menyimpan bakteri).
11. Matikan kran air dengan tisu.
12. Tangan sudah bersih.


Lalu kapan, sih, kita harus cuci tangan?
Pada dasarnya ini tergantung aktivitas kita. Misalnya dokter yang sehari-hari mengunjungi dan memeriksa pasien di rumah sakit, maka sebagian kewajiban mencuci tangan diantaranya saat sebelum dan setelah memeriksa pasien. Sedangkan untuk kita, kurang lebih saat:

1. Sebelum menyiapkan makanan.
2. Sebelum makan.
3. Setelah dari kamar kecil.
4. Setelah batuk/bersin.
5. Setelah memakai sarung tangan.
6. Setelah bermain atau mengurus hewan.
7. Setelah membuang sampah.

Awas bahaya mengintai kita untuk kasus diare dan ispa, pastikan sebelum makan atau sesudah makan kita biasakan untuk cuci tangan pakai sabun agar terhindar dari bahaya penyakit yang menyerang tubuh kita. Inspirasi pagi, Senin (16/10/2017).

Posting Komentar