Cashless Mulai diterapkan di Institusi Pemerintah Daerah

Edaran Transaksi Non Tunai pada Pemerintah Daerah Provinsi 

Per 1 Januari 2018 berdasarkan surat edaran Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia yang ditujukan kepada Gubernur KDG Provinsi Seluruh Indonesia no. 910/1866/SJ tentang Implementasi transaksi non tunai (cashless) akan diberlakukan. Namun untuk praktek sementara per 1 Nopember 2017 baru ditetapkan untuk cashless honor tim.

Tujuan diberlakukan ini sebagai upaya peningkatan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah, transaksi non tunai merupakan pemindahan sejumlah nilai uang dari satu pihak ke pihak lain dengan menggunakan instrument berupa alat pembayaran menggunakan kartu (APMK), cek, bilyet giro, uang elektronik atau sejenisnya. 

Jika ada pertimbangan keterbatasan infrastruktur yang terkait dengan penyelenggara transaksi non tunai di daerah, pemerintah daerah dapat melaksanakan transaksi non tunai dimaksud secara bertahap dengan melakukan pembatasan penggunaan uang tunai dalam pelaksanaan transaksi penerimaan oleh bendahara penerimaan/bendahara penerima pembantu dan transaksi pengeluaran oleh bendahara pengeluaran/bendahara pengeluaran pembantu yang ditetapkan oleh gubernur. 

Transaksi non-tunai membuat ekonomi lebih efisien. Pengelolaan keuangan yang dilakukan pemerintah pusat, daerah, maupun dunia usaha pun berlangsung transparan dan akuntabel. Transaksi non-tunai lebih aman dan nyaman. Bisa membuat tabungan yang akan menjadi lebih besar untuk membiayai ekonomi kita. Kalau pakai transaksi tunai mahal, mesti cetak, disimpan, diedarkan, dan kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan. 

Salah satu syarat negara maju adalah transaksi tunai makin lama makin kecil. Kalau kita mau jadi negara maju, transaksi tunai kita makin lama semakin kecil. Kalau mau transaksi tunai kita makin kecil, tentu kita ingin makin banyak orang Indonesia yang akses uangnya ke lembaga keuangan yang ada, termasuk bank dan non-bank. 

Bank Indonesia sejak 2010 telah mencanangkan program transaksi tanpa uang tunai. Masyarakat diajak untuk melakukan transaksi elektronik dengan menggunakan kartu kredit, debit, internet, atau layanan transaksi dengan telepon seluler,  transaksi elektronik mengurangi beban bank sentral dalam mencetak uang dan mengendalikan peredaran uang tunai di masyarakat. Ke depan, harapannya, akan terbentuk masyarakat tanpa uang tunai, cashless society. Program ini dilakukan sebagai bentuk komitmen atas perluasan instrumen non-tunai, kami akan menjadikan gerakan tahunan yang didukung dengan berbagai kegiatan untuk mendorong meningkatkan pemahaman masyarakat akan penggunaan instrumen non-tunai dalam melakukan transaksi pembayaran.

Demi terciptanya masyarakat tanpa uang tunai, pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik dalam Layanan Keuangan Digital. PP ini mengatur mengenai soal penyelenggaraan sistem elektronik, penyelenggara agen elektronik, penyelenggaraan transaksi elektronik, tanda tangan elektronik, penyelenggaraan sertifikasi elektronik, lembaga sertifikasi keandalan, dan pengelolaan nama domain.

Di Jakarta, kita merasakan belakangan ini berbagai transaksi layanan publik perlahan mulai beranjak ke elektronik, mulai dari parkir, tiket bus transjakarta, Commuter Line, dan pembayaran gardu tol.

Masih kecil, tetapi terus meningkat

Lalu, sudah seberapa banyakkah masyarakat Indonesia yang beralih melakukan transaksi non-tunai?

Berdasarkan catatan MasterCard Advisors yang mengeluarkan laporan global terbaru berjudul The Cashless Journey, pembayaran non-tunai di Indonesia terhitung baru sebesar 31 persen dari total pembayaran yang dilakukan konsumen. Ini menempatkan Indonesia dalam kategori negara-negara yang berada dalam tahap awal (inception) bersama negara lain, seperti Nigeria, Rusia, dan Kolombia. Negara-negara tersebut baru saja mulai untuk beralih dari pembayaran tunai.

Di negara-negara maju, mayoritas masyarakatnya melakukan transaksi non-tunai. Laporan itu menyebutkan, di Belgia, 93 persen transaksi konsumen dilakukan non-tunai, Perancis (92 persen), Kanada (90 persen), Inggris (89 persen), Swedia (89 persen), Australia (86 persen), dan Belanda (85 persen).

Sementara, bersama Indonesia yang disebut berada dalam tahap transisi adalah Brasil (57 persen), Polandia (41 persen), dan Afrika Selatan (43 persen).  

Pergeseran tercepat dari pembayaran tunai ke non-tunai terjadi di Tiongkok. Pembayaran konsumen secara tunai menurun 20 persen antara tahun 2006 dan 2011. Di negeri itu, sekitar 55 persen transaksi telah berlangsung secara non-tunai.

Meskipun masih kecil, transaksi non-tunai di Indonesia meningkat tajam sejak beberapa tahun lalu. Menurut catatan Bank Indonesia, pada tahun 2009 terjadi 48 ribu transaksi dengan nilai Rp 1,4 miliar per hari. Jumlah ini meningkat pada 2010, yaitu 73 ribu transaksi dengan nilai Rp 1,9 miliar per hari. Pada 2011 jumlahnya kembali meningkat menjadi 112 ribu kali transaksi dengan nilai Rp 2,7 miliar per hari, dan terus meningkat pada 2012 menjadi 219 transaksi dengan nilai Rp 3,9 miliar per hari.

Era baru Ada bisa bertanya pada diri Anda sendiri, seberapa banyak uang cash yang masih Anda bawa setiap hari? Masihkah Anda membayar tagihan telepon, listrik, air, dengan cara antre di loket pembayaran? Belanja online atau memilih menembus kemacetan untuk membeli sebuah buku, sepotong baju, atau aneka kebutuhan Anda?

Transaksi non-tunai bukan cuma soal kenyamanan konsumen dan industri perbankan. Lebih dari itu, transaksi non-tunai juga menyangkut keadaban demokrasi sebuah bangsa.

Transaksi non-tunai tak bisa tidak menjadi bagian dari solusi pemberantasan korupsi yang telah menjadi penyakit akut bangsa ini. Aneka transaksi koruptif akan sulit dilakukan ketika mekanisme pengelolaan keuangan negara berlangsung sepenuhnya secara elektronik: tercatat, terlacak, kredibel, dan akuntabel. Hanya para kriminal-lah yang melakukan transaksi tunai dalam jumlah besar. 

Barangkali, pada satu masa yang entah kapan, uang dalam bentuk fisik sungguh akan menjadi kenangan seperti keyakinan Reich di atas. Dompet kita sama sekali tidak lagi berisi uang, cuma tumpukan kartu.

Bentuk dompet barangkali juga akan berubah, atau mungkin kita tidak lagi butuh dompet seperti yang kita kenal selama ini, ketika uang-uang kita tersimpan dalam bahasa program di telepon seluler, tablet, atau komputer kita.

Salah satu istilah yang sedang ramai diperbincangkan saat ini adalah cashless yang bila diartikan secara harfiah berarti tanpa uang tunai. Istilah ini bukannya mengacu pada situasi atau orang-orang yang tidak memiliki uang tunai, melainkan lebih mengacu pada sebuah kelompok masyarakat yang melakukan transaksi tanpa menggunakan uang tunai sama sekali. Segala jenis transaksi yang dilakukan menggunakan bentuk pembayaran yang lain misalnya saja kartu kredit, cek, atau transfer dari satu rekening ke rekening lain.

Di tanah air sendiri, sistem ini sudah mulai dipergunakan dalam berbagai hal namun bisa dikatakan masih dalam jumlah yang sangat terbatas dan hanya dipergunakan oleh kalangan tertentu saja. Masih perlu dilakukan banyak hal untuk bisa meyakinkan masyarakat luas untuk bisa menggunakan sistem transaksi seperti ini, karena tingkat ketergantungan masyarakat pada uang tunai masih tergolong besar.

Namun, segala dasar dari penggunaan sistem cashless ini memang sudah nampak dan bisa jadi hal ini memang merupakan salah satu hal yang akan dijalankan di masa depan nantinya.

Posting Komentar