Ayo Sekolah Bisa Berantas Kebodohan


Ayo Sekolah Sebuah Pesan Moral Untuk Pengembalian Anak Ke Sekolah - Foto Emilosevil


“Kau, sudah 6 tahun, Sebentar lagi sekolah”. Sang ayah memandang anak dengan penuh rasa sayang. Berbicara dari hati yang terdalam. Ia memegang pinggang sang anak dan mengangkatnya ke atas meja sehingga muka anak dan ayah dalam keadaan sejajar. “Sayang, kau akan belajar banyak hal yang menyenangkan di sekolah, mendapat ilmu dan akan mempunyai banyak teman”, ucap ayah dengan dua tangan memegang pipi anak dengan mesra.

“Tapi aku ingin bermain ayah. Aku masih senang main rumah-rumahan sama Ningrum, Indah dan Budi”. Ada rasa keengganan dan kekhawatiran. Tangan anak memegang dua tangan ayah yang masih memegang pipi anak. 

“Kau akan tetap bermain,  sayang. Bahkan lebih banyak permainan. Di sekolah, kau akan mempunyai lebih banyak teman, jadi pasti akan lebih banyak permainan dengan teman barumu”. Sang ayah menatap mata anak dengan lembut namun tajam seperti berusaha melihat sisi terdalam lubuk hati anak.

“Aku hanya ingin bermain rumah-rumahan, ayah. Aku sedang membuat cerita. Budi menjadi pangeran, Indah menjadi nenek sihir dan Ningrum menjadi seorang rakyat biasa. Aku sedang mencari teman-teman lainnya”. Anak tetap ngotot dengan pendiriannya. Main dan main dalam fikirannya. “Kalau begitu, kau bisa mencari teman di sekolah untuk mencari pemainnya, oke….” ayah bertanya dengan sedikit mengiba, diiringi anggukan anak.

Begitulah sepenggal percakapan seorang ayah dengan anak kesayangannya, anaknya ingin bermain dan tidak sekolah, sedangkan ayahnya berharap anaknya bisa sekolah, dalam benak sang ayah, walaupun ayahnya bekerja sebagai kuli serabutan, tapi ingin agar anaknya menjadi generasi yang cerdas, ceria dan berakhlaqul karimah. Lewat sekolah lah menurutnya anak ini bisa dididik dengan baik dan benar, jadi sangatlah beruntung jika ada keluarga yang memiliki anak kemudian bisa belajar dengan tekun hingga jenjang perguruan tinggi dalam mengenyam pendidikannya. 

Betapa dahsyatnya anak bisa sekolah. menurut menurut om wiki sekolah berasal dari bahasa Greek, scholeion, yang artinya institusi yang diselenggarakan untuk mendorong siswa belajar di bawah pengawasan guru. sekolah diselenggarakan karena anak harus belajar. Untuk belajar diperlukan pengawas, yaitu guru. Kenapa tidak orang tua ? Karena orang tua harus mencari uang untuk keperluan keluarga, sehingga harus ada orang yg dibayar untuk mengawasi proses anak belajar.Lalu kenapa harus dilembagakan dalam bangunan sekolah ? ya, sebenarnya sebuah kamar juga bisa menjadi sekolah seperti model one-room school jaman baheula, tapi jumlah orang tua yang tidak sanggup mengajari sendiri anaknya semakin bertambah dan anak-anak yang datang ke sekolah semakin banyak, maka kelas pun bertambah dan jadilah sekolah !

Lalu, kenapa harus belajar ? rata-rata menjawab, supaya kita pintar ! Lalu, kalau sudah pintar, tidak usah belajar ? kejar saya. Ya…belajar yang lainnya 😀  Belajar bagi mereka punya tujuan yang jelas, yaitu sampai PINTAR. Jika sudah pintar di satu bidang, maka harus belajar bidang lain. Tapi saya tidak tahu apakah murid2 saya mengerti apa itu pintar ? 

Manusia menurut historinya belajar secara informal melalui keluarga, alam dan lingkungannya. Lalu kegiatan belajar mengajar melembaga menjadi sebuah badan non formal karena adanya orang yang memiliki ilmu lebih ketimbang yang lainnya, yaitu guru, alim ulama, padhita, atau yang lainnya. Ilmu yang lebih itu kebanyakan adalah tentang pemahaman hidup atau nilai-nilai hidup.

Lalu kenapa sekolah menjadi milik negara atau dikontrol negara ? Barangkali karena pendidikan tidak bisa dilepaskan dengan politik. Tapi, dengan berubahnya status sekolah menjadi status milik negara, maka belajar di sekolah menjadi tidak menyenangkan,  Karena sekolah-sekolah di bawah pengelolaan negara menjadi seragam seluruh negeri. Bahkan yang dipelajari pun sama.

Sekolah-sekolah mengacaukan esensi belajar kata Ivan Illich dalam Deschooling society (1971), anak-anak dididik dengan ketidakjelasan apakah mereka belajar untuk sebuah nilai rapor atau belajar untuk mengetahui sesuatu, mahasiswa dibingungkan dengan tujuan akhir kuliah, apakah untuk mendapatkan gelar atau membuat mereka matang dalam keilmuannya.

Jadi haruskah sekolah dihapuskan ? Saya pikir tidak. Tetapi yang harus diubah adalah esensi pengajaran dan pendidikan di dalam sekolah. Sekolah diselenggarakan untuk mendidik anak agar memahami kehidupan orang-orang di sekitarnya, agar anak-anak termotivasi belajar lanjut terhadap sebuah ilmu yang ditekuninya.

Sekolah dibuat bukan untuk keperluan negara, tetapi untuk mencerdaskan rakyat. Sekolah yang dibuat untuk semata keperluan negara, adalah sekolah-sekolah yang tidak mengenal keberagaman, tetapi keseragaman. Sekolah yang dibuat untuk keperluan negara bertujuan untuk mencetak pekerja, bukan untuk melatih anak menjadi orang dewasa.

Semoga inspirasi pagi ini bisa menggugah bagi kita semua, bahwa untuk menciptakan generasi yang cerdas, ceria dan berakhlaqul karimah hanya bisa ditempuh dengan mengikuti pendidikan baik di sekolah maupun di madrasah. mudah-mudahan kita bisa mewariskan generasi yang akan datang menjadi generasi yang tidak lemah tetapi menjadi tokoh panutan dan penuntun hidup bagi orang banyak. Selamat belajar dan sukses bagi anak-anak ku yang sedang menempuh pendidikan, dan pesan bagi orang tua untuk memberikan motivasi dan arahan kepada anaknya sendiri agar tetap bisa sekolah. 

Posting Komentar