Jelajah Bumi Petungkriyono dimusim Kemarau



Yosorejo Ibukota Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, Sabtu (26/8/2017) - Foto BU
Petungkriyono (penaulum.com) - Siapa yang tidak kenal bumi petungkriyono pekalongan, sebuah negeri di atas awan dengan panorana alam yang sangat indah dan cuaca begitu sejuk dan hawa dingin menyelimuti mereka yang menghuni ataupun yang berkunjung ke daerah ini.

Untuk menuju pusat pemerintahan kecamatan Petungkriyono yang terletak di Yosorejo, kita harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam tiga puluh menit dari pintu masuk gapura petungkriyono yang berada diperbatasan Desa Kayupuring dengan Doro.

Pantauan penulis selama menempuh perjalanan dengan kendaraan bermotor, Jalan yang dilewati adalah jalan milik provinsi, penuh tanjakan yang tajam dan berliku, kondisi jalan rusak sepanjang 23 kilometer, hawa dingin dan angin sepoi-sepoi menyelimuti kalbu sehingga selama perjalanan penulis bisa menghirup udara bersih dan pemandangan hutan, sawah dan sungai bebatuan yang di dalamnya ada air jernih dan bisa langsung diminum karena dekat dengan sumber mata air.

Kondisi pertanian di musim kemarau pun, warga desa di kecamatan perungkriyono masih berani menanam padi dengan kondisi tanah terasering, menanam lombok, bawang polong, dan kubis serta sayur mayur.  Beberapa petani yang ditemui penulis mengatakan walaupun cuaca kemarau, tapi masih berani menanam padi karena ada sumber mata air yang bisa di ambil dari atas melalui pipa dan bisa dimanfaatkan untuk mengaliri sawah dimana padi tersebut ditanam.

Saat tiba di ibukota petungkriyono tepatnya di Desa Yosorejo, penulis langsung menuju ke Warung Makan Ibu Siti, dimana ada beberapa jurnalis warga petungkriyono yang pernah dilatih 4 bulan yang lalu, mereka masih produktif dalam menulis dan memberitakan kondisi daerahnya, mereka tergabung dalam komunitas jurnalis warga petungkriyono dengan domain www.suarapetungkriyono.com, sebuah portal informasi dan komunikasi warga untuk mengangkat isu penting daerahnya, baik terkait masalah isu pendidikan, kesehatan, perempuan, sosial budaya maupun layanan publik bidang administrasi kependudukan.

Sembilan jurnalis petungkriyono yang hadir dalam mentoring jurnalis warga, mereka dibekali cara membuat liputan administrasi kependudukan baik itu terkait akta kelahiran dengan problematika layanan dan syarat memperolehnya, termasuk pemahaman kenapa setiap anak harus memiliki dokumen kependudukan akta kelahiran.

Salah satu peserta diskusi Sugeng  Slamet perwakilan dari warga desa Tlogohendro mengatakan, dirinya baru memiliki kutipan akta kelahiran saat ada program pemutihan masal di kecamatan, kisaran usia 11 tahun baru bisa dapat akta kelahiran.

" Sebagian warga biasanya untuk membuat akta kelahiran lewat jasa pamong desa, bayar untuk pengganti transport dari desa ke Kajen, karena jauh dan susahnya menunggu di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil lama sehingga memilih jalur pamong sebagai pilihannya, " pungkasnya (BU)

Posting Komentar