Berqurban Hewan Cermin Peduli Sesama Umat



Salah satu hewan yang bisa di qurbankan - Foto BU
Sebuah uraian hikmah yang sangat mendalam, dimana Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah 2 KH. Subhan Makmun pernah menyampaikan sebuah intisari makna qurban pada saat pembukaan acara madrasah diniyah pondok pesantren assalafiyah 2 saditan, Kelurahan Brebes, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. 

Ada banyak mutiara hikmah yang disampaikan kepada para pengurus madrasah, panitia pembangunan ponpes, dan para santri. Betapa pentingnya usahanya mendekatkan diri ini (ber-qurban) sehingga dalam ajaran Islam menetapkan syariat qurban, dalam bentuk penyembelihan hewan kurban satu tahun sekali, kepada yang mampu, yaitu pada setiap Hari Raya Idul Adha (Idul Haj atau disebut juga Idul Qurban), yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Secara umum makna qurban (kurban) dalam pengertian bahasa berasal dari kata qaruba-yaqrubu-qurbanan, yang artinya dekat atau mendekatkan diri.

Hukum ibadah kurban adalah sunnah muakkadah. Artinya amat dianjurkan bagi orang Muslim yang mampu. Mampu di sini, tidak identik dengan kaya. Menurut Mazhab Syafi’I, bila seseorang masih mempunyai uang diluar kebutuhan dan biaya hidupnya pada hari raya dan tiga hari berikutnya (ayyamu al-Tasyriq), maka telah berlaku baginya anjuran berkurban.

Ibadah ini mulai diperintahkan oleh Allah Swt. Pada tahun kedua Hijriah, bersamaan dengan perintah salat hari raya, zakat mal, dan zakat fitrah. Rasulullah Saw. Sendiri, seperti disebut dalam banyak hadis, melaksanakan ibadah qurban dengan menyembelih dua ekor kambing, (HR Bukhari). Beliau menyembelih sendiri kurbannya itu dengan membaca Basmalah dan Takbir, sambil berkata “hadza’anni wa’ amman lam yudhahhi min ummati (kurban ini diriku Muhammad Saw dan dari orang yang tak mampu berkurban dari umatku ); (HR Abu Daud).

Ibadah kurban, seperti halnya ibadah haji, bersifat simbolik. Di dalamnya, terkandung beberapa makna spiritual yang amat dalam.

Pertama, ia merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, sebagai ungkapan rasa syukur, maka bacaan takbir ketika menyembelih hewan kurban itu, tulis pakar tafsir Abdullah Yusuf Ali, justru lebih penting daripada penyembelihan kurban itu sendiri.

Kedua, kurban adalah ungkapan cinta kasih dan simpatik kepada kaum lemah. Dikatakan demikian, karena ibadah kurabn tidak sama dengan upacara persembahan dalam agama-agama lain. Hewan kurban tidak dibuang di altar pemujaan dan tidak pula dihanyutkan di air sungai. Daging kurban itu justru untuk dinikmati oleh pelaku ibadah kurban itu sendiri dan orang-orang miskin disekitarnya. 

Ketiga, kurban adalah symbol dari kesediaan kita untuk melawan dan mengenyahkan segala sesuatu yang menjauhkan diri kita dari jalan Allah Swt.. Sesuatu itu, bisa berupa harta dan kekayaan kita, kedudukan dan pekerjaan kita, atau apa saja yang membuat kita tak sanggup berkata benar karena itu, kurban dapat pula disebut sebagai symbol dari kemenangan kita melawan hawa nafsu kita sendiri.

Dari sini penulis dapat memahami bahwa ibadah kurban pada hakikatnya adalah komitmen kita untuk senantiasa menuhankan Allah, bukan menuhankan hawa nafsu kita sendiri, serta kesediaan kita untuk berbagi rasa dengan sesama manusia, terutama kaum lemah. Komitmen inilah yang akan membawa kita meraih perkenan dan ridha Allah, bukan darah dan daging kurban itu sendiri. 

Orang yang berkurban adalah orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah SWT sekaligus mendekatkan dirinya kepada sesama manusia. Daging hewan kurban kemudian dibagikan kepada kaum fakir miskin yang mungkin mengalami kesulitan untuk mengkonsumsi daging, karena tidak terjangkau oleh daya beli.

Saking pentingnya penyembelihan hewan kurban ini sampai Rasululullah saw menyatakan bahwa siapa saja yang mempunyai kemampuan (keleluasaan untuk membeli seekor kambing) lalu tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami. Juga sabdanya bahwa tidak ada amalan manusia pada Hari Raya Adha yang lebih dicintai Allah, selain mengalirkan darah hewan (maksudnya : menyembelih hewan kurban).

Penyembelihan hewan kurban dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat Idul Adha, atau tanggal 11, 12 sampai dengan tanggal 13. Ketiga hari terakhir ini disebut dengan hari tasyriq yang berarti “hari yang berlimpah dengan daging”.

Penyembelihan tidak boleh dilakukan sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasululullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat maka harus menyembelih hewan lain untuk menggantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih, maka sembelihlah (sesudah shalat) dan sebutlah nama Allah.”

Setelah disembelih, daging hewan langsung diberikan kepada golongan fakir miskin yang mungkin dalam kesehariannya tidak mempunyai kemampuan untuk mengkonsumsi daging, karena di luar jangkauan daya beli mereka. Apabila di daerah orang yang berkurban masyarakatnya sudah terbiasa mengkonsumsi daging, maka boleh saja hewan tersebut disebarkan ke daerah-daerah yang betul-betul membutuhkannya.

Adapun hewan kurban yang disembelih, jika memiliki keleluasaan dana maka hendaknya yang jantan, yang gemuk dan bertanduk, sebagaimana kurban yang dilakukan oleh Rasululullah saw. Apabila tidak, maka yang menjadi syarat hewan kurban adalah tidak termasuk salah satu dari kategori yang empat.

Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Imam yang empat serta disahihkan oleh Imam Turmudzi dan Ibn Ribban, Rasululullah bersabda, Empat 
jenis binatang yang tidak memenuhi syarat untuk dijadikan hewan kurban, pertama: hewan buta (sebelah) yang jelas butanya. Kedua, Binatang sakit (berpenyakit) yang jelas sakitnya. Ketiga: Binatang yang pincang, yang jelas pincangnya. Keempat: Binatang yang sudah tua yang tidak bersum-sum.

Sementara itu, para peternak sapi dan kambing pun mulai menyediakan stok yang bertambah, biasanya hanya beberapa ekor saja menyediakan sapi dan kambing untuk konsumsi daging di pasar, sekarang mereka sengaja menyediakan sapi dan kambing puluhan ekor untuk dipasarkan, ada penjual kambing dan sapi memiliki pelanggan sendiri, ada juga meminta jasa orang untuk bisa dibantu pemasarannya, termasuk menggunakan fasilitas Whatsapp dan juga website online. semoga rejeki anak sekolah dari transaksi jual beli ini bisa menjadi modal bagi peternak menafkahi kehidupan keluarganya dan juga mampu mensekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. 

Inspirasi Penulis dalam rangka menyambut hari raya idhul adha, semoga bermanfaat untuk semua. Minggu (27/08/2017)

Posting Komentar