Nata Urip Nuntun Umat



Nata Urip Nuntun Umat 
Terbesit inspirasi pagi penulis ketika melihat pesan tulisan di kendaraan roda empat di Kelurahan Margadana, Kota Tegal, saat melintas di jalan pantura ada mobil nampak tulisan pesan nata urip nuntun umat, dikasih logo Nahdhlatul Ulama lagi. Sebuah pesan moral yang mengandung makna sangat luas dan begitu mendalam untuk diartikan. 

Seseorang yang hidup di muka bumi ini harus dinikmati,  Jangan sampai kita justru sedih dan tidak mampu bahagia dalam menjalani kehidupan. Ada orang yang selalu terlihat bahagia, namun disisi lain kita sering melihat orang yang sepertinya kesusahan dalam menjalani kehidupan. 

Cara menikmati hidup bisa dilakukan dengan berbagai cara, semua tergantung pada masing-masing individu. Jalan manakah yang Anda ambil untuk menikmati kehidupan. Setiap orang memiliki caranya sendiri dan pastinya cara tersebut juga berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Mengutip sebuah tulisan Mudjahirin Thohir di Suara Merdeka pada 16 april 2017 mengatakan, ada sejumlah pepatah-petitih yang hingga kini masih dijadikan paugeran, pedoman, oleh sebagian orang Jawa, terutama di pedesaan. Pepatah-petitih itu, dalam ilmu folklore dikategorikan sebagai local wisdom alias kearifan lokal; bagaimana masyarakat menata kehidupan bersama secara selaras. Sayang, banyak ungkapan penuh kearifan itu tergerus kederasan berbagai tayangan televisi yang cenderung hedonistik.

”Ana dina, ana upa. Ada hari ada rezeki. Namun untuk mendapatkan, orang harus bekerja. Ora obah, ora mamah. Siapa tidak bergerak atau berusaha, tidak makan. Namun untuk bekerja, orang harus hati-hati. Tanpa kehati-hatian, apalagi kalau ceroboh, akan celaka. Dalam paugeran Jawa dikatakan yitna yuwana lena kena. ”Kehati-hatian itu dewasa ini menjadi penting karena banyak bujukan dan kepura-puraan. Banyak orang cerdik pandai, tetapi kepandaian mereka tidak untuk memayu hayuning bawana, memperindah keindahan dunia. Namun untuk kepentingan pribadi, sambil membodohi orang lain.

Setiap insan di dunia yang ingin menuntun umat maka dirinya harus  menuntut ilmu yang luas dan setiap tindakannya harus memilih asah, asih asuh, termasuk selalu melakukan tebar kebaikan (fastabiqul khoirot).  Manusia dalam menuntut ilmu agama hukumnya wajib atas setiap muslim (fardhu ‘ain) sehingga berdosalah setiap orang yang meninggalkannya. 

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Untuk Menuntun umat, seorang penuntun harus memiliki perkataan yang baik, karena inilah aturan dasar dalam berbicara dengan orang lain. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya Syetan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya, syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’”. (QS. Bani Israil: ayat 53).

Kata-kata baik dapat mengubah musuh menjadi teman dan mengubah kedengkian menjadi cinta dan kasih sayang. Dengan berkata-kata baik, berarti kita telah memenggal syetan dengan segala bisikannya. Inilah salah satu janji Allah dalam kitab-Nya.

Selain itu, berkata-kata baik juga merupakan sedekah, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW. Berkata-kata baik akan membukakan pintu-pintu langit dan diterima oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Perkataan-perkataan yang baik dan amal yang baik pasti akan sampai kepada Allah dan diangkat-Nya.” (QS. Faathir: ayat 10).

Selain itu, berkata-kata baik juga menjadi penyebab seseorang memasuki surga-Nya. Rasulullah SAW bersabda: “Sebarkanlah salam (kedamaian), berbicaralah dengan baik, jalinlah persaudaraan dan shalatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan damai.” (HR. Ahmad).

Inilah inspirasi siang, semoga tulisan ini bisa bermanfat untuk kita semua. Kita memang hidup di hari ini, bukan kemarin atau besok. Kita wajib untuk tetap fokus dengan kehidupan yang kita jalani sekarang. Tapi bukan berarti kita juga nggak perduli dengan masa depan kita nanti. Ingatlah, apa yang kamu dapatkan di masa depanmu nanti adalah buah dari hasil usahamu saat ini. Suatu hari nanti, kamu akan bersyukur atas semua tindakan positif yang pernah kamu buat di masa lalu. Kamis (06/07/2017). 

Posting Komentar