Tradisi Prepegan di Kampung Masih Bertahan


Prepegan di Kampung
Ramadhan hari ini telah berakhir, biasanya di kampung-kampung saat ramadhan terakhir, berbondong-bondong datang ke pasar tradisional, mereka sengaja membeli barang seperti ketupat, kembang, sayur mayur dan aneka yang lainnya. Penjual pun sengaja menyiapkan kebutuhan pembeli bahkan stok yang ada ditambahkan, penjual dan pembeli mengenal tradisi ini dengan nama Prepegan. 

Prepegan berasal dari bahasa Jawa yang berarti berdesakkan.  Tradisi prepegan dilakukan mendesak oleh warga di bulan Ramadan secara beramai-ramai mendatangi pasar untuk membeli keperluan menjelang lebaran, biasanya pada saat tiga hari sebelum hari H lebaran. Tak jauh dari rumah saya terdapat sebuah pasar yang bernama Pasar Induk Brebes dan juga pasar di kota kecamatan seperti pasar banjarharjo. Sehari sebelum lebaran, Pasar ini akan penuh dengan ribuan warga sekitar yang datang berbelanja dan ada juga yang sekedar datang melihat keramaian. 

Hampir semua warga akan berkumpul di tempat yang sama di Pasar ini, kemudian akan berbelanja secara massal. Tradisi prepegan dimanfaatkan untuk menjalin silaturahmi warga. Istilah lain "Prepegan" berasal dari kata "mrepeg". Mrepeg dalam bahasa Jawa merupakan kata sifat yang menyatakan suatu keadaan. Mrepeg bisa diartikan mendesak, kritis, juga tergesa. Mungkin dikarenakan menjelang lebaran, pikiran masing-masing orang yang datang ke pasar dipenuhi dengan angan dan rencana-rencana untuk mendapatkan barang kebutuhan yang diinginkannya guna menyambut hari kemenangan. Dalam kondisi demikian, dalam diri orang tersebut semacam ada dorongan beban yang ingin segera dituntaskannya. 

Itulah kondisi sumpeg bin mrepeg yang harus segera dituntaskan. Di sisi lain, secara harfiah, pada Hari Prepegan manusia memang berjubel memenuhi pasar. Suasana pasar bertambah ramai, padat dan mungkin juga sumpeg berdesak-desakan. Pada saat hari pasaran terakhir ramadhan, boleh dikata masyarakat sekitar akan “tumplek-blek” dipasar untuk membeli kebutuhan hari raya Idul Fitri. Mereka berduyun-duyun datang ke pasar untuk berbelanja kebutuhan pokok yang akan digunakan untuk menyambut datangnya hari kemenangan. 

Semua kebutuhan pokok tersedia disana dan banyak juga pedagang-pedagang musiman yang datang berjualan disini. Dan hebatnya….dihari “Prepegan” ini ramainya pasar ini bisa sampai diatas jam 14.00 WIB padahal kalau dihari pasaran biasa tidak lebih dari jam 10.00 WIB. 

Pada saat “prepegan” ini, kios yang paling rame umumnya kios sandangan, kios aksesoris, kios kue-kue lebaran, pedagang ayam potong, daging, ikan, sayur-mayur-lah yang paling banyak dikunjungi pembeli. Yang menjadi daya tarik tersendiri adalah pedagang kembang, sepanjang jalan depan pasar biasanya banyak ditemui pedagang kembang yang sudah dipincuk (dikemas dengan daun pisang) dengan isinya aneka rupa kembang. Kembang ini untuk kebutuhan nyekar ke kuburan. 

Banyak orang yang dalam keseharian bukan pedagang pada masa "Prepegan" ini bisa ikut berjualan kembang di pasar. Jika dikalkulasi, dalam satu hari “prepegan” ini tak kurang dari ratusan juta rupiah perputaran uang-nya. Karena dari mulai kuli panggul, tukang becak, tukang angkot, tukang parkir dan juga pedagang berusaha ikut menikmati perputaran uang yang nilainya ratusan juta ini.

Tradisi prepegan tak pernak lapuk bahkan turun temurun, orang tuanya selalu melatih dan mengkader putra putrinya, jika ditinggalkan terasa ada yang kurang, bahkan jika tidak punya duwit ya sengaja datang untuk melihat situasi prepegan di pasar kampung dan juga pasar induk. Setahun sekali kok, tradisi ini harus langgeng dan bisa menjadi tali silaturokhim. Sabtu (24/6/2017).

Posting Komentar