Tepung Seduluran Nasab di Perkumpulan Bani

Halal Bi Halal Keluarga Bani H. Catam Wasman

Setiap tahun, umat Islam di Indonesia setiap selesai melaksanakan hari raya idhul fitri, mereka langsung melakukan sungkeman atau salam-salaman kepada keluarga, tetangga, maupun kepada kerabat terdekat mereka. Bagi mereka yang memiliki keluarga besar dan sudah banyak kerabatnya maka media silaturokhim yang tepat melalui acara Halal Bi Halal, dimana mereka mengumpulkan semua sanak familinya baik itu simbah, anak, mantu, maupun cucu, cicit, dan seterusnya. mereka berkumpul untuk taaruf sekaligus mengenalkan silsilah keluarga besar mereka. 

Salah satu contoh yang dilakukan oleh Keluarga Besar Bani yang diselenggarakan di Desa Keboledan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes. Mereka rutin melaksanakan Halal Bi Halal. contoh yang dilaksanakan Keluarga Besar Bani Dalsiah Desa Keboledan, Kecamatan Wanasari yang dilaksanakan setiap tahun, dan sekarang sudah menginjak 51 pertemuan dengan mengambil hari H+1 setelah lebaran, ada lagi keluarga besar Bani H. Catam Wasman Desa Keboledan juga melaksanakan rutin biasanya H+3 setelah lebaran. Makna ini dimaksudkan untuk mengetahui silsilah/nasab sekaligus untuk mempererat tali persaudaraan antara keluarga. 

Makna Nasab 

Kata nasab yang sering kita dengar tentunya berasal dari bahasa arab  yakni kata “an nasab” yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yakni keturunan atau kerabat.  Kata nasab juga berarti memiliki ciri atau atau memberikan karakter keturunannya. Adapun dalam kamus besar bahasa Indonesia kata nasab itu sendiri tidak memiliki perbedaan ari atau pergeseran makna. Nasab dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya keturunan terutama keturunan dari pihak bapak.

Nasab juga diartikan sebagai suatu tali yang menghubungkan keluarga dan hubungan darah lainnya. Sedangkan secara istilah, nasab memiliki arti keturunan yang didapat dari pernikahan sah dan memiliki ikatan atau hubungan darah yang disebut keluarga baik yang merupakan hubungan darah yang bersifat vertikal atau ke atas seperti ayah, ibu, kakek, nenek dsb ataupun yang bersifat horizontal atau menyamping seperti paman, bibi, saudara dll.

Sistem Penentuan Nasab

Nasab secara etimologi bererti al qorobah (kerabat), kerabat dinamakan nasab kerana antara dua kata tersebut ada hubungan dan keterkaitan. Berasal dari frasa "nisbatuhu ilaa abiihi nasaban" (nasabnya kepada ayahnya), Ibnus Sikit berkata,"Nasab itu dari sisi ayah dan juga ibu." Sementara sebahagian ahli bahasa mengatakan,  "Nasab itu khusus pada ayah, ertinya seseorang dinasabkan kepada ayahnya saja dan tidak dinasabkan kepada ibu kecuali dalam keadaan luar biasa.

Peletakan nama bin (anak laki-laki) dan binti (anak perempuan) yang disertai dengan nama ayahnya setelah nama anaknya adalah sesuatu yang disyariatkan di dalam agama Islam.

Firman Allah: ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ artinya: “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.” (QS. Al Ahzab : 5)

Di dalam ayat itu Allah swt meminta agar setiap anak dinisbahkan kepada ayahnya tidak kepada ibunya, sehingga disebut fulan bin fulan tidak fulan bin fulanah. Ketika seseorang dipanggail atau diseru ia juga dipanggil dengan,”Wahai bin fulan,” tidak “Wahai bin fulanah.” Pada hari kiamat pun manusia akan dipanggil dengan namanya yang dinisbahkan kepada ayahnya, fulan bin fulan, sebagaimana disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi Muhammad s.a.w., ”Sesungguhnya seorang pengkhianat akan mengangkat sebuah panji untuknya pada hari kiamat. Dikatakan kepadanya, ’Inilah pengkhianatan fulan bin fulan.” (HR. Bukhori)

Sebab Penentuan Nasab

Dalam menentukan ansab atau keturunan maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Dalam islam sendiri ada tiga sebab utama dalam penentuan nasab yaitu sebagaimana yang diuraikan dalam penjelasan berikut ini :

1. Melalui Pernikahan Sah

Para ulama fiqih seorang anak yang lahir dari seorang wanita atau perempuan melalui pernikahan yang sah adalah anak dari laki-laki atau ayahnya tersebut. Adapun untuk menjadi nasab anak tersebut maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi diantaranya adalah

Pertama, suami telah dewasa serta matang dalam hal biologis sehingga ia dipastikan dapat memberi keturunan, apabila ia tidak dapat memberi keturunan atau memiliki penyakit kelamin, maka ia tidak dapat dikaitkan nasabnya dengan sang anak.

Kedua, usia janin atau kandungan sang istri haruslah setidaknya berusia enam bulan sejak pernikahan. Hal ini sesuai dengan mahzab Hanafi namun berdasarkan pendapat mahzab yang lain usia kandungan haruslah terhitung enam bulan atau lebih sejak terjadi persetubuhan setelah pernikahan jika usianya kurang maka anak tersebut tidak dapat dikaitkan nasabnya dengan sang suami.

Ketiga, adanya persenggemaan atau persetubuhan antara suami dan istri setelah menikah secara lahiriyah atau bilogis hal ini sesuai dengan pendapat tiga mahzab sedangkan ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hubungan tersebut boleh bersifat imajinasi atau akal saja. Meskipun demikian tetap saja anak yang diakui dalam nasab adalah anak yang didapt melalui hubungan lahiriyah dan jika sang suami merasa tidak pernah menggauli sang istri namun sang istri hamil maka ia boleh menjatuhkan tuduhan li’an atau anak tersebut bukanlah anak kandungnya melainkan hasil perzinahan atau perselingkuhan dalam rumah tangga (baca zina dalam islam)

2. Melalui Pernikahan Fasid

Pernikahan fāsid dapat diartikan sebagai pernikahan yang dilaksanakan tidak memenuhi syarat maupun rukun nikah yang berlaku dalam agama islam. Misalnya saja pernikahan yang melibatkan mempelai wanita yang masih menjalani masa iddah talak (baca hukum talak dalam pernikahan dan perbedaan talak satu, dua dan tiga ) baik cerai mati maupun cerai hidup. Adapun anak tersebut yang nantinya lahir dari sang wanita dapat terikat nasabnya dengan sang suami apabila sang suami memiliki syarat-syarat yang sama dengan sebab penentuan nasab melalui pernikahan yakni sang suami mampu menghamili sang istri, usia kandungan istrinya lebih dari enam bulan serta terjadinya 
persetubuhan yang menyebabkan hamilnya sang istri.

3. Nasab yang disebabkan karena Wāti Syubhat

Istilah Wāṭi syubhat memiliki arti bahwa adanya persetubuhan yang terjadi tanpa suatu kesengajaan misalnya saja seorang lelaki menyetubuhi seseorang dalam suatu kamar tanpa penerangan atau sang laki-laki tidak dapat melihat wajah atau rupa wanita yang ia anggap sebagai istrinya.

Adapaun perstubuhan wati syubhat ini merupakan suatu kesalahan dan apabila si wanita hamil maka anak yang lahir, nasabnya dikaitkan dengan pria tersebut. Adapun syarat laki-laki tersebut menjadi nasab anak yang lahir karena watisyubhat adalah jika usia kehamilannya minimal enam bulan dan masa kehamilan mwanita tersebut atau lahirnya sang anak tidak melewati masa maksimal kehamilan yakni sembilan bulan sepuluh hati. Anak yang lahir lebih lama dari masa kehamilan nasabnya tidak dapat dikaitkan dengan lelaki yang menyetubuhinya secara wati syubhat tersebut.

Demikianlah arti nasab dan sebab penentuan nasab seorang anak berdasarkan fikih klasik (baca fiqih pernikahan). Dengan demikian dapat disimpulkan seorang aanak dapat terikat nasab dengan ayahnya atau seorang laki-laki jika memenuhi sebab-sebab diatas dan jika tidak maka nasabnya terkait dengan ibunya saja. Dampak atau pengaruh dari nasab inilah yang akan menentukan mahram (baca pengertian mahram dan muhrim dalam islam) atau wanita yang haram dinikahi , hubungan kekerabatan, perwalian nikah (baca syarat-syarat wali nikah dan urutan wali nikah), pemberian nafkah, waris serta untuk mencegah terjadinya konflik dalam keluarga maupun pernikahan sedarah yang tidak diperbolehkan dalam islam.

Allah swt menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling kenal mengenal. Realiti berbangsa-bangsa dan bersuku-suku ini tidak akan diketahui tanpa adanya saling kenal mengenal dan interaksi kecuali dengan mengetahui nasab-nasab mereka dan memeliharanya dari ketercampuran dan kerancuan dari nasab-nasab orang selainnya…

Islam membatalkan setiap bentuk hubungan yang telah dikenal oleh sebagian umat dan masyarakat yang menyimpang dari syariat Allah yang lurus. Islam tidak membolehkan hubungan selain hubungan yang ditegakkan di atas pernikahan yang syar’i dengan berbagai persyaratan yang telah ditentukan atau memiliki budak yang juga telah ditentukan, firman-Nya,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥﴾ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦﴾ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ﴿٧

Artinya : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mukminun : 5 – 7)

Di antara pemeliharaan islam terhadap nasab adalah kecamannya yang keras terhadap berbagai pengingkaran nasab dan ancaman kepada para ayah dan ibu yang mengingkari keberadaan nasab anak-anak mereka, sikap berlepas dirinya dari anak-anak itu, atau ketika menasabkan seorang anak yang bukan dari mereka.

Sabda Rasulullah saw,”… Dan setiap laki-laki yang mengingkari anaknya padahal dia mengetahuinya maka Allah menghijab darinya pada hari kiamat serta Dia swt akan menghinakannya dihadapan orang-orang yang terdahulu dan akan datang.” (HR. Abu Daud)

Islam mengharamkan penasaban seseorang kepada selain ayahnya sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berisi ancaman keras terhadap pelakunya, ”Siapa yang menganggap kepada selain ayahnya sedangkan dia mengetahui bahwa dia bukanlah ayahnya maka syurga diharamkan atasnya.” (HR. Bukhori)

Islam membatalkan pengangkatan anak, penasaban anak angkat kepada ayah angkatnya, setelah hal ini dianggap biasa dan tersebar di kalangan orang-orang jahiliyah pada awal-awal Islam. Allah swt berfirman :

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ

Ertinya : “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapa-bapa mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al Ahzab : 5)

Kenapa ada Pembacaan Silsilah Nasab Keluarga Bani 

Nasab yaitu keturunan atau kerabat. Pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah. Kata  nasab di dalam Alquran disebutkan dalam tiga tempat. Yakni Pertama, dalam surat Al-Mukminun ayat 101, surat Al-Furqan ayat 54, dan surat an-Nisa ayat 23.

Mengetahui nasab merupakam sesuatu yang sangat penting. Setiap orang diharuskan memelihara kesucian nasabnya dengan ahlak yang mulia. Karena tidaklah mudah untukm enjaga nasab, sebagai ikatan penyambung keturunan serta asal-usul kembalinya keturunan seseorang kepada leluhurnya.

Bukan persolan remeh status nasab pada seorang anak. Dari segi agama hal ini penting untuk menentukan masalah hukum waris, wali pernikahan, kafaah suami terhadap istri dalam pernikahan dan masalah wakaf. Sedangkan dari sisi kepemerintahan, persoalan ini mampu merusak kestabilan pemerintah. Pemerintah akan merasa kesulitan menentukan status kewarganegaraanya, karena tidak jelasnya status orang tua.

Melalui pembacaan nasab atau silsilah keluarga di perkumpulan Bani dengan menyelenggarakan Halal Bi Halal, biar nantinya tidak terputus tali silaturokhim dan antara keluarga satu dengan keluarga yang lainnya, baik itu anak kandung maupun anak mantu beserta dzuriyahnya memahami bahwa mereka itu masih bersaudara dan bisa mempererat tali persaudaraan, makanya kemudian menjamurlah tradisi halal bi halal yang diselenggarakan oleh banyak masyarakat Indonesia sekarang ini. 

Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa memperjelas makna dari urgensi nasab yang disampaikan dalam acara halal bi halal yang diselenggarakan oleh keluarga besar bani xxxx. Jumat (30/6/2017)

Posting Komentar