Tamak Koncone Setan

Menarik bagi penulis untuk mencoba memperjelas pesan moral dari KH. Subhan Makmun selaku Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah pada acara khataman kitab kilatan puasa ramadhan. 
Khataman kilatan Kitab di Ponpes Assalafiyah Luwungragi

" Wahai santri putra dan putri, janganlah kalian memiliki sifat tamak (rakus atau serakah), termasuk riya (pamer) dalam melakukan perjuangan dan siar islam, karena orang yang tamak itu merasa tidak puas dengan harta yang dimiliki, merasa kurang dan kurang, inginnya memiliki keinginan banyak, bermanfaatlah ilmu anda dan hormatilah gurumu," ungkapnya di hadapan ratusan santri di aula Dalail Khoirot, jumat (16/6/2017). 

Kyai menceritakan, ada seseorang yang mengharapkan berkat walimatul ursy, dalam dirinya ini berkat kok bagus, jika dikasih isi berkat ada tambahan, pastilah muantap. Namun ternyata setelah doa walimatul ursy selesai, bukannya dapat berkat yang diharapkan, nasib berkat yang harusnya dibawahnya, malahan dibawa orang yang ikut walimatul ursy, ya akhirnya dapat biasa saja, apa gara-gara tamak yah ?

Apa sih Tamak itu ? 

Tamak adalah rakus atau serakah. Sifat tamak ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang yang sangat cinta dengan keduniaan. Orang tamak tidak akan puas dengan kekayaan yang telah dimilikinya, selalu merasa kurang dan kurang. Mereka menginginkan yang banyak, setelah banyak menginginkan lebih banyak lagi dan seterusnya. 

 Orang yang tamak yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain hanya demi suatu kekayaan, mereka selalu menghitung untung rugi dengan materi, bahkan tidak mau melakukan sesuatu kalau tidak menguntungkan. Hidupnya selalu terbelenggu untuk mencari keduniaan, tidak mau mengeluarkan uang jika tidak memberi keuntungan, Tidak berpikir bahwa sebagian hartanya adalah milik fakir dan miskin. Jika manusia menginginkan kejayaan, kebahagiaan dan kekayaan itu adalah hal yang wajar. Akan tetapi, harus di ingat bahwa segala sesuatu itu tidak harus semuanya terpenuhi secara berlebihan. Karena itu bukanlah tujuan hidup yang sebenarnya.

Tamak dapat berdampak buruk yaitu dapat merugikan orang lain, hidupnya selalu dalam kegelisahan dan tidak pernah merasa bebas karena was-was hartanya akan berkurang. Setiap insan di dunia ini harus menghindari ketamakan. Karena sifat tersebut sangatlah merugikan diri sendiri. 

Kamu bisa menghindari ketamakan tersebut dengan cara berpola hidup sederhana, membiasakan menerima apa adanya, selalu melihat orang-orang yang dibawah sehingga merasakan penderitaan fakir miskin dan hidup dengan selalu berbagi untuk umat. Sifat rakus terhadap dunia menyebabkan manusia menjadi hina, harta tidak akan menghasilkan kepuasan hidup karena keberhasilan dalam mengumpulkan harta akan menimbulkan harapan untuk mendapatkan harta benda baru yang lebih banyak. 

Orang yang tamak senantiasa lapar dan dahaga kehidupan dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi, mereka sebenarnya tidak dapat menikmati kebaikan dari apa yang dimiliki, tetapi sebaliknya menjadi satu bebanan hidup. 

Selanjutnya, kehidupannya hanya disibukkan untuk terus mendapat apa yang diinginkannya, karena orang tamak lupa tujuan sebenarnya amanah hidup di dunia ini. Mereka tidak peduli hal lain, melainkan mengisi segenap ruang untuk memuaskan nafsu tamaknya. 

Marilah kita syukuri saja nikmat yang telah diberikan Allah SWT, janganlah kita tamak, termasuk riya (pamer), sebenarnya Tuhan maha pencipta ini telah memberikan rejeki kepada orang sesuai dengan kapasitasnya, mereka yang telah diberikan nikmat ini untuk selalu bersyukur, semakin banyak cobaan dari Allah, berarti kita ini akan dinaaikkan status derajatnya. 

Semoga tulisan ini bisa menjadi pencerah bagi penulis dan juga pembaca, sebuah inspirasi siang yang ditulis saat pengambilan rapot anak di MAN Babakan Ciwaringin Cirebon, selasa (17/6).

Posting Komentar