Sungkeman Penghapus Dosa Antar Sesama

Tradisi sungkeman di beberapa desa/kota di Indonesia masih bertahan hingga kini, lebih-lebih di suku jawa, sungkeman hingga bertahan mulai awal idhul fitri hingga 7 hari (bada kupatan), namun tradisi ini di beberapa daerah mulai mengikis seiring dengan munculnya metode komunikasi yang super cepat dan canggih yakni sms, telpon maupun kirim berita di media sosial baik itu whatapps, facebook maupun twitter. 
Sungkeman Tradisi Idhul Fitri Penghapus Dosa Antar Sesama

Masyarakat jawa seperti halnya di Brebes, tradisi sungkeman paling banyak dilakukan saat hari raya idhul fitri sampai 2 hari setelahnya, setelah itu mereka sering menggunakan sarana halal bi halal sebagai pendekatan mempererat tali silaturokhim dan di penghujung acara dilakukan salam-salaman, metode ini sebagai pengganti sungkeman pada keluarga terdekat atau keluarga satu bani yang satu nasab. Sedangkan dengan keluarga yang jauh tapi tidak ketemu, mereka lakukan dengan cara kirim berita lewat SMS, Inbox messenger, Facebook maupun Whatapps. 

Berbeda dengan orang jawa yang berada di daerah kota santri, kota ukir, kota kretek, kota mina tani, maupun kota bahari rembang. Tradisi sungkeman dilakukan pada keluarganya terlebih dahulu, keluarga tertua yang masih hidup menjadi puser bagi saudaranya untuk berkumpul, mereka berkumpul dan kemudian melaksanakan tradisi sungkeman, seraya meminta maaf dan juga minta didoakan semoga dalam mengarungi bahtera keluarga, mereka yang masih belajar menjadi santri atau mahasiswa atau pelajar diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu. 

Sungkeman juga dilakukan mereka ke keluarga kyai yang sepuh atau kyai yang kharismatik di kotanya, masyarakat berduyun-duyun untuk datang ke kediaman kyainya, dengan tujuan untuk sungkeman berharap ziyadah doa dari ulama ini, karena para tamu ini setiap hari ratusan dan tidak muat kapasitas ruang tamu nya kyai tersebut, sehingga dibuat estafet untuk yang hadir dulu langsung menempati tempat lesehan dikediaman kyai tersebut. 

Setelah penuh, lalu kyai pun menyediakan jamuan secukupnya, kyai meminta tamu-tamunya untuk menikmati hidangan yang ada, selanjutnya kyai mengatakan lewat pengeras suaranya, mudah-mudahan hajatipun Bapak/Ibu dan para tamu yang tidak bisa disebutkan satu-satu, mendapatkan berkah dan barokah, dan tujuan silaturokhim ini menjadi pelebur dosa kita (hablum minan nas), kyai pun mendoakan para tamu ini semoga selamat dunia akhirat. 

Dilanjutkan dengan sungkeman dengan cara salam-salaman dengan kyai tersebut, yang perempuan dengan bu nyai nya. Begitu seterusnya hingga 7 hari lamanya, kediaman ulama ini penuh dengan silaturokhim masyarakat sekitar daerahnya bahkan para alumni santri yang pernah mondok di kediamannya. 

Berikut adalah beberapa kalimat yang sering digunakan dalam sungkeman di hari raya idul fitri. 

Kula sowan wonten ing ngarsanipun Bapak/Ibu. Sepisan, caos sembah pangabekti mugi katur ing ngarsanipun Bapak/Ibu. 

Ongko kalih, mbok bilih wonten klenta-klentunipun atur kula saklimah, tuwin lampah kula satindak ingkang kula jarag lan mboten kula jarag ingkang mboten ndadosaken sarjuning panggalih. Mugi Bapak/Ibu kersa maringi gunging samodra pangaksami Kula suwun kaleburna ing dinten riyadi punika Lan ingkeng putra nyuwun berkah saha pangestu. 

bisa juga seperti ini, 

Ngaturaken sembah pangabekti kawula Sepinten kalepatan kula ingkang mboten angsal idining sarak, dalem nyuwun pangapunten. Mugi lineburo ing dinten riyaya punika. 
atau 
Ngaturaken sembah pangabekti kawula. Sepinten kalepatan kula, lampah kula setindak, paben kula sakecap ingkang mboten angsal idining sarak, kula nyuwun pangapunten mugi lineburo ing dinten riyaya punika. 

Begitulah Intisari dari sungkeman dihari fitri sebagai ungkapan bekti orang muda untuk meminta maaf dan orang yang tua untuk memberikan maaf, begitu pula sebaliknya jika yang tua banyak salahnya, maka yang muda pun tidak salah jika diminta maafnya karena ada beberapa faktor karena ilmunya ataupun karena dia putranya gurunya, sehingga dianggap sepuh pinisepuh. Minggu (25/6/2016)

Posting Komentar