Reuni Sekolah Bisa Tumbuhkan Solidaritas Baru

Reuni SMP Negeri Wanasari Angkatan 1990/1991

Selama hampir 27 tahun, penulis baru ketemu dengan teman se angkatan sekolah SMP.  Wajah dan penampilan teman sekelas dan seangkatan begitu banyak yang berubah, hingga kadang lupa wajah dan juga lupa nama. Untuk mengingatkan satu angkatan mungkin tidaklah benar semua, kadang-kadang ada yang lupa nama dan lupa wajah, namun saat ketemu wajahnya, baru teringat ada tanda yang bisa dijadikan daya ingat kembali. 

Memang ada kesan begitu unik dan menarik,  secara umum peserta reuni mengingat kembali atau bernostalgia tentang hari-hari sekolah mereka dulu, dengan detail mengingat teman-teman yang suka usil, dan bercerita tentang apa yang terjadi dengan masing-masing mereka sejak berpisah dan terpencar-pencar. Alumni biasanya sangat peduli dengan bagaimana hidup mereka berubah jika dibandingkan dengan hidup mantan teman sekelas mereka, dan kadang merasa tertekan untuk bercerita jauh mengenai karier sukses mereka, pencapaian pribadi, dan hubungan dengan orang lain. 

REUNI atau Temu Kangen. Apapun nama dan sejenisnya. Jadikan setiap momentumnya lebih sehat dan positif. Reuni bukan hanya kumpul-kumpul doang, tapi reuni harus menyehatkan, harus memberi kebaikan. Reuni itu bukan ajang pamer, bukan ajang mengumbar kesombongan juga bukan untuk bikin sakit teman. Atau bikin teman kita trauma hingga gak mau lagi datang ke reuni. Menurut Prof. Ganesha, ahli jantung RS Harapan Kita: Reuni, apapun istilahnya adalah suatu upaya. Upaya mempertemukan kembali yang dulu pernah bersama, upaya mencari eksistensi diri yang mulai pupus dari memori karena di makan usia.

Bahkan Richard Paul Evans dalam bukunya Lost December menulis "The sweetness of reunion is the joy of heaven". Menurut Dr. Priguna Sidharta, reuni selain untuk memutar longterm memori di hipocampus, juga untuk memperbaiki fungsi nucleus accumbens, bagian otak yang mengurus kesenangan. Dan kita perlu tahu, memutar kembali memori adalah satu upaya mencegah penyakit alzheimer yang memang satu saat kelak akan menghampiri tiap orang, cepat atau lambat.

Psikolog UI, Bagus Takwin, mengungkapkan pandangannya soal manfaat reuni: KENANGAN. Reuni merupakan sarana untuk melihat kembali diri kita beberapa tahun ke belakang. Dengan melihat masa lalu, seseorang akan mengerti bahwa kehidupan yang dia jalani selama ini merupakan suatu hal yang sangat penting. Setiap orang melalui kenangannya pasti akan membuat monumen-monumen dirinya agar dapat selalu mengingat bahwa dia itu berkembang.  

Sebuah reuni, seseorang juga bisa mendapatkan self esteem. Karena saat reuni, kita pasti bertemu dengan teman-teman lama yang tentunya tahu sifat kita dulu. Ini bukan dalih, tapi patut direnungkan. Manfaat Reuni adalah salah satu jalan menyambung dan memelihara tali silaturahim yang sangat dianjurkan oleh agama.

Reuni akan bermanfaat, Reuni akan sehat dan positif bila kita tidak EGOIS. Gak usah mikir yang macama-macam tentang reuni. Gak usah pakai “jaket” kekinian untuk mengenang masa lampau. Gak usah bawa-bawa pangkat, jabatan, harta atau status sosial. Sepakatilah, reuni atau temu kangen seharusnya “melepas” jaket KEAKUAN dalam pertemanan. Berteman adalah KITA, Kamu dan Aku bersama-sama. Itu saja. 

Mungkin beberapa alasan ini bisa jadi acuan, agar reuni kita sehat dan positif. Bukan malah sebaliknya. Apa aja manfaat reuni: 1.  Menjalin kembali tali silaturahim dan saling bertukar informasi, karena kita sudah tidak pernah atau jarang ketemu lagi, 2.  Mengenang masa lalu yang sehat dan positif, karena ini terapi hati dan pikiran yang positif. Bisa terbebas dari sakit, makin rileks dan bikin ketawa. Asal hati-hati aja, gak usah pengen “kembali” ke masa lalu. Apalagi urusan mantan pacar, CLBK dan sebagainya karena itu mengganggu keharmonisan semuanya, 3.  Mengembalikan eksistensi dan kembali belajar, karena tiap orang punya eksistensi dan potensi dalam diri. Kita bisa belajar dari teman, dari pertemanan yang sebegitu lama. 4.  Memperpanjang usia, karena kita bisa mengurangi stress atau depresi. Bahkan sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang yang banyak dikelilingi teman dan saudara,  kemungkinan meninggalnya berkurang 50 persen dibandingkan mereka yang tidak memiliki kehidupan sosial. Kehidupan sosial yang lebih baik membuat kita rata-rata hidup 3,7 tahun lebih lama. Dan ingat soal umur, penentunya bukan kita tapi Allah, kita hanya ikhtiar aja. 5.  Bekerjasama untuk amal, karena menjadi tujuan yang sangat positif dari pertemanan. Amal dan berbuat untuk sesame inilah tujuan utam reuni atau temu kangen, dimanapun dan kapanpun. Sejauh amal ini belum dilakukan, maka reuni dan temu kangen agak sulit berkembang. Karena reuni, bukan sekedar kumpul lalu bubar.

Sebuah penelitian juga pernah mengungkap manfaat dari kegiatan kumpul-kumpul bersama teman di ajang reuni. Ternyata kegiatan santai ini juga bisa membuat umur panjang. Sebuah penelitian bahkan pernah menemukan bahwa seseorang yang banyak dikelilingi teman dan saudara kemungkinannya meninggal lebih cepat berkurang 50 persen dibandingkan mereka yang tidak memiliki kehidupan sosial. 

Orang-orang yang memiliki kehidupan sosial yang cukup aktif rata-rata hidup 3,7 tahun lebih lama. Para peneliti juga mengungkap efek dari memiliki teman dibandingkan dengan berhenti merokok. Merasa sendirian dengan sedikit dukungan sosial meningkatkan risiko kematian, seperti kecanduan alkohol atau obesitas. Penelitian yang dilakukan tim dari Brigham Young University dan University of North Carolina (UCLA) juga menunjukkan ada hubungan antara kematian dan kesepian baik pada wanita maupun pria di segala usia. Mereka menganalisis data dari 148 penelitian selama tiga dekade yang melibatkan 300.000 orang.

"Teman dan orang-orang yang mendukung dapat membuat hidup menjadi lebih terasa mudah. Mereka bisa meminjamkan uang, membantu mengurus bayi atau memberikan perhatian kecil yang membuat Anda merasa diperhatikan," kata  Bert Uchino, salah satu peneliti dari Brigham Young University, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Daily Mail. 

Ia menambahkan, dukungan emosi yang didapatkan dari teman dan orang tercinta dapat membantu mengurangi beban masalah. Hal ini sangat penting agar tidak memicu stres atau depresi berat yang bisa menjadi penyakit dan memicu kematian lebih cepat. "Seseorang yang mendapat dukungan dan hubungan sosial yang positif, tekanan darah, gula darah, metabolisme, dan stres hormonnya lebih stabil," kata Teresa Ellen Seeman, profesor medis dari UCLA School of Public Health

Ukuran keberhasilan sebuah reuni bagi tiap penyelenggara memang berbeda-beda. Saya pribadi memandang, suksesnya reuni bukan hanya dilihat dari jumlah orang yang hadir, atau dari meriahnya acara pada saat hari pelaksanaan saja. Melainkan bagaimana penyelenggara bisa menciptakan sebuah suasana yang nyaman untuk semua orang, yang akan menjadi landasan bagi kelanjutan pertemuan-pertemuan berikutnya. Jika memang berhasil, maka akan terbentuk komunitas baru yang terdiri dari wajah-wajah lama. Saat ini, dimana orang berlomba untuk membentuk komunitas dengan berbagai tema, banyak dari unsur dalam reuni sekolah yang sudah bisa digarap secara langsung untuk membuat komunitas yang solid.

Ingat, kita bukan siapa-siapa. Kita juga bukan apa-apa. Maka peliharalah TEMAN dan PERTEMANAN kita. Karena kita adalah HOMO HOMINI SOCIUS, manusia adalah kawan bagi sesama. Jumat (30/06/2017)

Posting Komentar