Menyatu dengan Alam, Jaga dan Lestarikan

Sebuah ungkapan yang mungkin mudah diucapkan, tapi ternyata betapa peliknya kodrat manusia untuk menyatu dengan alam, kalau kita melestarikan hutan, maka pohon pun selalu berdzikir dan akan memberikan imbal balik yang luar biasa. Semakin kita merawatnya, mereka akan tampak hijau dan indah, dan bisa menjadikan kesejukan, kerindangan termasuk tempat menyimpan air untuk kehidupan disekeliling kita, bahkan menjadi penghidupan bagi mereka yang telah melestarikannya.
Menyatu dengan Alam, Lestarikan Bumiku, Sejahterakan Rakyatku

Kita tidak bisa membayangkan, betapa panasnya cuaca ini jika ditempat kita tidak ada pepohonan, sebut saja di daerah timur tengah, tepatnya di arab saudi. Para jamaah haji dan umroh melihat sekeliling perjalanan dari makkah ke madinah, tak nampak sedikitpun pohon yang tumbuh hijau, terlihat gurun pasir, hanya nampak bukit dan gunung batu, namun karena kebesaran ciptaan tuhan yang diberikan dan doa para nabi yang menjadikan tanah mekkah dan madinah menjadi tanah suci, maka tanah tersebut memiliki nilai sejarah yang tak ternilai harganya. 

Kita hidup di Negeri Indonesia harus mensyukuri betul, karena hanya diberikan 2 musim yakni musim penghujan dan musim kemarau, walaupun cuaca sekarang sangat ekstrim, disaat musim kemarau muncul hujan, begitu pula saat musim hujan kadang juga tidak kunjung hujan. begitulah cuaca sekarang yang kita rasakan. 

Hutan yang sudah ditanam, bukan kemudian dilestarikan, namun semakin dijarah, bahkan karena nafsu serakah, banyak hutan harusnya ditanami pohon yang kuat dan kokoh untuk tidak mengalami longsor, mereka lebih senang merubahnya dengan mengalih fungsikan hutan tersebut menjadi tanaman kentang, kubis dan lainnya. Salahkah siapa, tanah perhutani yang harusnya ditanam pohon yang kuat seperti karet, kopi, jati, maupun albasia, sehingga muncul habitat burung dan juga makhluk hidup seperti kera, burung jalak, malah semakin hari habitat ini bukan semakin bertambah, semakin terpinggirkan dan pada akhirnya mereka mencari lokasi lain dimana ada hutan yang masih lestari. 

Mestinya konservasi hutan alam lestari di tiap Kabupaten/Kota harus tetap dipertahankan, jika perlu dibuatkan regulasi yang kuat baik itu Peraturan Daerah maupun peraturan bupati sebagai penjabaran teknisnya karena semakin banyak lokasi konservasi hutan alam lestari nantinya mampu menjadi penyumbang penyeimbang lingkungan yang bersih dan asri, dan kondisi cuaca di sekitarnya pun lebih dingin dan sejuk. Tapi bila ini dibiarkan, maka yang terjadi adalah bencana yang melanda di negeri tersebut, keserakahan, dan tidak memperhatikan hutan akan menyebabkan bencana dimana-mana. 

Ayat Alqur'an terkait Pelestarian Alam 

Terkait masalah larangan membuat kerusakan di muka bumi ini ada pada surat Ar Rum [30] ayat 41-42 yang Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalanan dimuka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42). Ayat ini mengandung makna selain untuk beribadah kepada Allah, manusia juga diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia. Keserakahan dan perlakuan buruk sebagian manusia terhadap alam dapat menyengsarakan manusia itu sendiri. Tanah longsor, banjir, kekeringan, tata ruang daerah yang tidak karuan dan udara serta air yang tercemar adalah buah kelakuan manusia yang justru merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Islam juga mengajarkan agar umat manusia senantiasa menjaga lingkungan. Hal ini seringkali tercermin dalam beberapa pelaksanaan ibadah, seperti ketika menunaikan ibadah haji. Dalam haji, umat Islam dilarang menebang pohon-pohon dan membunuh binatang. Apabila larangan itu dilanggar maka ia berdosa dan diharuskan membayar denda (dam). Lebih dari itu Allah SWT melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi. 

Tentang memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, banyak upaya yang bisa dilakukan, misalnya rehabilitasi SDA berupa hutan, tanah dan air yang rusak perlu ditingkatkan lagi. Dalam lingkungan ini program penyelamatan hutan, tanah dan air perlu dilanjutkan dan disempurnakan. Pendayagunaan daerah pantai, wilayah laut dan kawasan udara perlu dilanjutkan dan makin ditingkatkan tanpa merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup.

Sedangkan pada Surat Al A'raf ayat 56-58 juga menjelaskan yang artinya “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.” 

Kemudian pada Surat Sad ayat 27 yang Artinya : “Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” ini mengandung arti bahwa Allah menjadikan langit, bumi dan makhluk apa saja yang berada diantaranya tidak sia-sia. Langit dengan segala bintang yang menghiasi, matahari yang memancarkan sinarnya di waktu siang, dan bulan yang menampakkan bentuknya yang berubah-ubah dari malam kemalam serta bumi tempat tinggal manusia, baik yang tampak dipermukaannya maupun yang tersimpan didalamnya, sangat besar artinya bagi kehidupan manusia. Kesemuanya itu diciptakan Allah atas kekuasaan dan kehendak-Nya sebagai rahmat yang tak ternilai harganya.

Allah memberikan pertanyaan pada manusia. Apakah sama orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan juga apakah sama antara orang yang bertakwa dengan orang yang berbuat maksiat? Allah SWT menjelaskan bahwa diantara kebijakan Allah ialah tidak akan menganggap sama para hamba-Nya yang melakukan kebaikan dengan orang-orang yang terjerumus di lembah kenistaan. Allah SWT menjelaskan bahwa tidak patutlah bagi zat-Nya dengan segala keagungan-Nya, menganggap sama antara hamba-hamba-Nya yang beriman dan melakukan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya lagi memperturutkan hawa nafsu.

Mereka ini tidak mau mengikuti keesaan Allah, kebenaran wahyu, terjadinya hari kebangkitan dan hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka jauh dari rahmat Allah sebagai akibat dari melanggar larangan-larangan-Nya. Mereka tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya dan akan dihimpun dipadang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga mereka berani zalim terhadap lingkungannya.

Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya hanya untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan-Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini sehingga wajib untuk menjaga apa yang telah dikaruniakan Allah SWT. 

Semoga tulisan dihari alam 5 Juni 2017 ini bisa menjadi acuan bagi kita semua untuk selalu melestarikan alam ini dan tidak merusaknya, Sebuah ekosistem yang seimbang, keserakahan manusia menyebabkan bencana bagi kita semua. Marilah kita jaga alam ini dengan dimanfaatkan dengan baik. Senin (05/06) 

Posting Komentar