Makna Mudik sebagai Magnet Silaturokhim

Ritual Mudik sebagai Magnet Silaturokhim

" Sak adoh-adohe lungo, tetep eling wong tuo, wong tuo ora butuh bondo, tapi butuh anak'e teko ( Sejauh-jauh pergi, tetap ingat orang tua, orang tua tidak butuh materi, tapi butuh anaknya datang saat lebaran)"

Sebuah pesan dari seorang pemudik tahun 2017 ini sambil membawa tas rangel dan ditempelkan pesan agar orang lain dibelakangnya bisa melihat termasuk membaca, pesan yang sangat efektif, dan inilah yang dimaksudkan dengan istilah mudik sebagai magnet silaturokhim. 

Mengutip dalam wikipedia bahasa indonesia, Mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Transportasi yang digunakan antara lain : pesawat terbang, kereta api, kapal laut, bus, dan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor, bahkan truk dapat digunakan untuk mudik. Tradisi mudik muncul pada beberapa negara berkembang dengan mayoritas penduduk Muslim, seperti Indonesia dan Bangladesh. 

Ada kisaran 19 juta orang pada tahun ini melangsungan ritual mudik lebaran, aktifitas mudik menjadi sangat menarik dan dinantikan oleh para perantau, baik oleh mahasiswa yang kuliah di luar daerah, ataupun para pekerja yang mengadu nasib di daerah orang. Sebelum mudik pastikan segala hal yang menunjang kelancaran perjalanan mudik Anda benar-benar sudah beres. Jangan lupa menjaga kesehatan dan kebugaran fisik. Karena mudik adalah aktifitas yang cukup menguras energi dan tenaga.

Untuk sampai ke kampung halaman kita, tentunya seorang pemudik membutuhkan bantuan alat transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Apapun mode transportasi yang digunakan, seyogyanya, perjalanan mudik itu sendiri tidak kalah penting untuk kita menikmati aktivitas yang dilakukan tersebut. 

Tradisi mudik sudah ada sejak sebelum zaman Kerajaan Majapahit. Mudik adalah tradisi yang berasal dari para petani Jawa. Pada zaman kerajaan, orang-orang yang merantau akan pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam leluhurnya. Momen ini juga mereka manfaatkan untuk meminta rezeki dan keselamatan. Pada 1970-an barulah berkembang istilah mudik lebaran. Saat itu, Jakarta merupakan satu-satunya kota besar di Indonesia. Orang dari desa beramai-ramai datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dan mengubah nasib. Nah, untuk mereka yang sudah mendapat pekerjaan, mereka akan mendapatkan jatah libur panjang. Biasanya, libur panjang itu jatuh pada hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri. Jadilah momen lebaran ini digunakan untuk mudik atau pulang kampung dan bersilaturahmi dengan keluarga di sana.

Lalu, dari mana tradisi mudik berasal? Tampaknya belum ada yang menjelaskan secara konkret dan jelas kenapa mudik seolah mengikuti perayaan Idul Fitri. Begitu juga kenapa mudik harus diadakan. Namun, bukan hanya di Indonesia, mudik atau pulang kampung juga dilakukan oleh negara-negara lain. Di China, mudik dilakukan saat Tahun Baru China bahkan jumlah pemudik yang terjadi melebihi Indonesia. Kondisinya pun hampir sama dengan di Indonesia karena mereka juga merasakan kemacetan dan keriuhan di bandara, terminal, stasiun, serta pelabuhan. 

Secara kasatmata, mengapa masyarakat kita ingin mudik adalah ingin merayakan Lebaran di kampung halaman. Pada perayaan tersebut, banyak diisi kegiatan bersilaturahmi dengan kerabat dan kawan lama (diisi saling memaafkan) dan ziarah atau nyekar ke makam leluhur mereka. Bagi sebagian besar masyarakat di semua golongan (agama dan ekonomi), kurang afdol jika merayakan Lebaran tidak di kampung halaman mereka. Inilah ajang silaturahmi dengan kerabat atau kawan lama yang jarang bertemu akan melakukan perjumpaan sehingga tali silaturahmi tetap terjaga. Pada setiap mudik,selalu diiringi dengan perputaran ekonomi. Bahkan, setiap pegawai berhak mendapatkan tunjangan hari raya (THR) agar bisa merayakan Lebaran dengan nyaman.

Namun jika dilihat dari makna spiritual, mudik bisa diartikan kembali ke asal. Bagi sebagian orang mudik dimaknai agar setiap orang mengetahui asal-muasal mereka kenapa ada di dunia ini. Bagi orang Jawa, mudik untuk memaknai filosofi kalimat sangkan paraning dumadi (asal usul/dari mana manusia berasal), sehingga jika dimaknai seperti manusia dilahirkan dari kedua orang tua di sebuah tanah kelahiran (kampung halaman). Lebih jauh dimaknai, pada akhirnya semua manusia akan kembali ke asal penciptaan, yaitu Allah. 

Inilah sebenarnya makna spiritual atau pesat tersirat dalam mudik ini, magnet silaturokhim mudik diharapkan menyadarkan manusia, untuk mengetahui asal-muasalnya dan nantinya akan kembali ke penciptanya. Kamis (22/06/2017)

Posting Komentar