Hindari Watak Manusia yang Bermuka Dua ( Dzulwajhain)



Carilah teman yang tidak dzulwajhain, karena memiliki teman yang dzulwajhain itu tidaklah bisa abadi, namun malah menjadi masalah buat kita, kenapa demikian ? Pernahkah Anda mendengar ungkapan kata bermuka dua (dzulwajhain)? jika Ya, bermuka dua ini identik dengan seseorang yang bersikap munafik. Maksudnya ialah, ketika di depan berkata seolah-olah benar, tapi di belakang ia berdusta.
Bermuka Dua Ciri Orang Munafiq

Sebuah kategori orang yang dzulwajhain itu ciri-ciri orang munafiq. Jika mereka bertemu dengan orang-orang beriman mereka menyatakan keislaman dan keimanannya. Namun, apabila mereka berada di tengah teman-temannya, pemimpin-pemimpinnya, kalangannya, komunitasnya, mereka pun mengatakan bahwa itu semua sebenarnya hanyalah untuk memperolok-olokkan orang-orang beriman, kaum Muslimin saja.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut itulah orang yang bermuka dua (al-wajhain) dan itu adalah manusia paling buruk, seperti disebutkan di dalam hadits:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ  Artinya: “Manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi kaum dengan muka tertentu dan mendatangi lainnya dengan muka yang lain.” (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Imam An-Nawawi berkata, “Yang dimaksud dengan orang bermuka dua ini, yaitu orang yang datang kepada satu kelompok dengan menampakkan seolah-olah dirinya berada di pihak mereka dan berseberangan dengan pihak lawannya. Tetapi dalam waktu yang sama, dia juga datang kepada kelompok lain dan melakukan hal yang serupa.” Dalam konteks sekarang, orang seperti ini barangkali bisa disebut sebagai oportunis. Orang yang selalu mencari selamat dan tidak mempunyai idealisme.

Nabi bukan hanya mengecam orang yang bermuka dua ini sebagai orang yang termasuk dalam jajaran orang-orang terburuk di sisi Allah, melainkan beliau juga mengancam mereka dengan neraka! Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai dua muka di dunia, maka pada Hari Kiamat kelak dia akan diberi dua mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ad-Darimi dari Ammar bin Yasir)

Dalam sejarah Islam, yang dimaksud dengan orang bermuka dua ini adalah orang-orang munafik yang mengaku beriman manakala mereka bersama-sama dengan kaum mukminin. Tetapi, ketika kembali kepada kelompoknya, mereka kembali lagi kepada kekufurannya. Mereka ini lebih berbahaya daripada orang kafir yang jelas-jelas menampakkan kekafirannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur`an, “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan jika mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok’.” (Al-Baqarah: 14)

Dalam kontek etika pergaulan, orang yang bermuka dua, mereka itu cenderung mereka akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, belum lagi jika sudah ke ranah kekuasaan dan akhirnya ada nuansa financial, maka orang ini memiliki kecenderungan untuk melakukan laporan agar berdampak pada dirinya sendiri, lebih baik mengorbankan orang lain, asalkan dirinya itu tidak dirugikan. 

Dalam kontek komunikasi, orang bermuka dua itu memiliki insting yang kuat untuk menguasai suatu masalah, dan setelah kekuasaan tercapai, dengan ilmu yang dikuasainya, akan menyampaikan dengan berbagai model cara agar yang diberi informasi ini dibuat untuk tidak sama sumbernya, yang akhirnya ada nuansa adu domba, orang bermuka dua ini merasa senang dan gembira ketika lawannya sudah terperangkap dan terperdaya dalam tipu muslihatnya. segala cara dilakukan, yang penting dirinya lebih menang dan tidak terkalahkan. 

Seseorang yang bermuka dua itu rekan kerja bukanlah teman seperjuangan, tapi saingan, Teman-teman yang memiliki kelebihan, baik itu dari segi fisik, otak, kemampuan, maupun yang punya potensi untuk melebihi dirinya dianggap sebagai saingan terberat baginya. Dan karnanya makhluk seperti ini sering menggunakan cara menyikut ke segala arah, dan juga menendang ke segala arah.

Seorang yang bermuka dua adalah pelapor ulung (kompor), dia akan berapi-api memberikan presentasi yang buruk tentang rekan tersebut (saingan itu) kepada semua orang, bahkan juga kepada atasan, tak peduli apakah laporan itu sesuai fakta, ataupun hanya rekayasa, dan tidak jarang pula sering membesar-besarkan kesalahan rekan kerja (saingan).

Seorang yang bermuka dua merupakan wujud penjelmaan dari Bunglon. Di hadapan si-A dia suka berpura-pura baik, seolah-olah dialah sahabat terbaik. Namun di belakang si-A dia akan menjadi musuh yang ahli dalam propaganda tentang keburukan dan kejelekan si-A. Begitu juga dengan si-B, si-C atau yang lainnya. Bahkan ia tak segan-segan melakukan hal yang sama kepada Atasan (manusia bodoh). Sehingga jika suatu saat orang ini kehilangan kedekatan dengan Atasan (manusia bodoh), baginya itu merupakan sebuah musibah yang sangat besar, dan karnanya, sebelum musibah itu datang, dia akan mencapai dan mempertahankan kedekatan dengan Atasan (manusia bodoh) tersebut dengan sekuat tenaga, dengan menghalalkan segala macam cara, dengan mengharamkan segala macam nasehat, dan bahkan dia rela melakukannya sampai dengan tetes iler (liur) yang terakhir.

Semoga pembaca dan penulis senantiasa terhindari dari pirawi manusia yang bermuka dua, jadilah diri sendiri, janganlah menjadi orang yang bunglon. Inspirasi siang untuk kita semua. Sabtu (03/06/2017)

Posting Komentar