Etika Bermuamalah Melalui Media Sosial



Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan sebuah Fatwa MUI tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui media sosial, penetapan fatwa tercatat pada tanggal 13 Mei 2017, penetapan ini didasari atas perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi dimana akses ini dengan mudah diperoleh baik lewat handphone maupun lewat komputerisasi, namun dampak kemudahan informasi ini juga menimbulkan sisi positif dan negatif. 
Logo MUI 

Publikasi di media sosial sering kali menjadi sarana untuk penyebaran informasi yang tidak benar (hoax), fitnah, ghibah, namimah, gosip, pemutarbalikan fakta, kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu dan hal yang terlarang lainnya yang menyebabkan disharmoni sosial. Media sosial sering juga dalam penyampaian belum tentu benar bermanfaat, bisa karena sengaja atau ketidaktahuan, yang menimbulkan mafsadah di tengah masyakat. 

Sebuah pentingnya tabayyun (klarifikasi) ketika memperoleh informasi, dalam alquran surat Al Hujarat yang artinya Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu. 

Firman Allah SWT pada surat yang lain yakni Surat An Nur 16 mengatakan yang artinya ada larangan untuk menyebarkan praduga dan kecurigaan, mencari keburukan orang, serta menggunjing. 

Surat Al Hujarat ayat 29 mengatakan hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kami merasakan jijik kepadanya, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang. 

Rujukan hadist pun ada dimana diriwayatkan HR Muslim, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu, ia berkata, " Rosulullah shallahu alaihi wassalam bersabd," Wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan (pelakunya) kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan surga, seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan Jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan pelakukanya keburukan, dan keburukan itu menimpanya kepada api neraka. seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta. 

Hadist Nabi Muhammmad SAW yang diriwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim pun memerintahkan untuk bertutur kata yang baik dan menjadikannya sebagai salah satu indikator keimanan kepada Allah, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik dan diam. 

Sisi yang lain ada hadits Nabi Muhammad SAW tentang penjelasan perintah untuk menutupi aib orang lain, diriwayatkan HR Al-Bukhari, Dari Abdullah ibn Umar ra bahwasanya Rasullullah SAW bersabda, sesama orang muslim itu bersaudara. tidak boleh berbuat zalim dan aniaya kepadanya. 

Barang siapa yang membantu memenuhi kebutuhan saudaranya niscaya Allah SWT akan memenuhi kebutuhannya dan barangsiapa membantu meringankan kesulitan saudaranya niscaya Allah SWT akan meringankan kesulitannya di harai kiamat kelak. dan barang siapa menutupi aib seorang muslim niscaya Allah SWT akan menutupi aibnya di hari akhirat. 

Intisari dari fatwa MUI ini adalah dalam bermuamalah dengan sesama, baik di dalam kehidupan riil maupun media sosial, setiap muslim wajib berdasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan, persaudaraan, saling wasiat dan kebenaran, serta mengajak pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran. setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan, isi yang disampaikan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan, mempererat persaudaraan, baik ukhuwah islamiyah maupun wathaniyyah dan insaniyyah. 

Seorang muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan, melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, dan antar golongan, menyebarkan berita hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti tentang kematian orang yang masih hidup. menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan dan segala hal yang terlarang secara syar'i. menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai dengan tempat dan/atau waktunya. 

Mencari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang lain atau kelompok hukumnya haram, kecuali untuk kepentingan yang dibenarkan secara syari'i, menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diektahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram. 

Semoga sekelumit intisari dari mengutip fatwa MUI ini bisa menambah khasanah dan informasi bagi kita untuk selalu fastabiqul khoirot dan menjadikan sarana media sosial sebagai dakwah yang positif. Rabu (06/06) 

Posting Komentar