Punya Jamban, Bukti Menjalankan Syariat Islam



Pernahkah kita menyaksikan orang buang hajat sembarangan, seorang supir dengan percaya dirinya dia berhenti dijalan, lalu turun dari mobilnya langsung cur.. sambil hadap ke ban mobilnya, seorang ibu atau bapak saat tidak mempunyai jamban, dia datang ke sungai, kadang pekarangan sambil bawa kresek hitam ditaruhlah kotoran tersebut dan dibuang ke tanah pekarangan orang lain, termasuk orang kaya punya jamban dirumahnya, tapi malah saluran pipanya ditaruh di sungai, tidak punya septi tank, sengaja mengalirkan kotoran tersebut ke saluran irigasi. Apakah tindakan umat islam seperti itu dikategori dholim atau dibenarkan dalam syariat islam ? 
Memiliki Jamban Bagian dari Syariat Islam 

Sebenarnya agama Islam itu membawa ajaran untuk hidup secara bersih, sehat dan tidak merusak lingkungan, saatnya umatnya untuk mengamalkannya. Jika menginginkan suatu perubahan dan perbaikan dari semua kondisi buruk yang disebabkan karena kebiasaan dan perilaku kita, maka kita bisa memulai sekarang. Merubah perilaku dan kebiasaan sudah ada perintah Allah dalam surat Ar-Ra'ad ayat 11 yang berbunyi innallah la yughoyyiru maa biqoumin hatta yughoyyiruu maa bi anfusihimm (sesungguhnya Allah tidak merubah keadan suatu kaum, hingga mereka merubahnya). 

Sebagai makhluk ciptaan Allah, kita ini dilarang membuang kotoran termasuk tinja ke dalam sungai, baik secara langsung atau mengalirkannya lewat pipa, melalui selokan, kolam atau lainnya yang akhirnya air itu bermuara ke sungai. sesuai dengan sifatnya, air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Di sepanjang sungai banyak sekali orang yang memanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup. jika air tercemat oleh tinja/kotaran kita, maka akan menyebarkan berbagai penyakit, kita juga dilarang untuk Buang Air Besar di jalan dan tempat berteduh, termasuk pinggiran sungai, pematang sawah, dibawah pohon rindang, baunya itu mengganggu orang lain, dan dampaknya banyak lalat yang akan datang dan nantinya menyebarkan penyakit. ini artinya kita sudah menzalimi orang lain dan menjadi suatu perbuatan dosa. 

Islam memang agama sempurna, sehingga dalam urusan ‘ke belakang’ pun ada aturan dan adabnya. Begitu pentingnya urusan ini dalam syariat Islam sehingga Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kerap memperingatkan umatnya agar senantiasa berhati-hati dalam urusan ini. Mengabaikan adab ini bisa berakibat mendapatkan adzab. Ajaran islam pun sudah menjelaskan, disaat kita membuang hajat, kita harus menutupi aurat. Diriwayatkan dari HR Abu Dawud man atal ghoitho fal yastatir artinya barangsiapa yang datang ke jamban (BAB) maka tutupilah. Aurat adalah bagian tubuh yang harus ditutupi dan dilindungi, melakukan BAB ditempat yang terbuka akan menyebabkan terlihat auratnya. jika kita menutupinya maka sudah menjaga kehormatannya. 

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah pernah melewati dua kuburan dari orang yang tengah mengalami siksa kubur. Kata beliau, yang seorang disiksa karena kerap menyakiti tetangganya dan yang seorang lagi disiksa karena senantiasa tidak sempurna bersuci (thaharah) setelah kencing. Na’udzubillah min dzalik.

Bersuci secara asal-asalan menyebabkan adanya kotoran yang bersifat najis tertinggal pada tubuh atau pakaian seseorang. Jika orang itu shalat, sementara ada najis di badan atau pakaiannya, maka shalatnya akan tertolak. Itulah sebabnya dia disiksa dalam kuburnya.

Sayangnya banyak orang, terutama kaum laki-laki, yang mengabaikan peringatan tersebut, kencing di sembarang tempat, seperti di pinggir jalan, tanpa melakukan thaharah sesuai syariat. Sebagian yang lain buang air besar di tempat-tempat terbuka, biasanya nongkrong di pinggir sungai, membiarkan auratnya terbuka dilihat orang yang sedang melintas. Celakanya, ada di antara mereka yang sudi membuang kotorannya di selokan yang airnya tidak mengalir. Sehingga tak pelak lagi, baunya akan menyebar ke mana-mana selain itu juga menimbulkan bibit penyaki.

Hadits terkait Jamban dan Larangan Buang Air Besar Sembarangan

Jangan menampakkan aurat kepada orang lain ketika buang air, usahakan mencari tempat yang tertutup. (H.R. Muslim), Jangan buang air di lubang binatang, di jalan tempat orang lewat, di tempat berteduh, di sumber air, di tempat pemandian, di bawah pohon yang sedang berbuah, atau di air yang mengalir ke arah orang-orang yang sedang mandi atau mencuci.” (H.R. Muslim, Tirmidzi), · Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah bersabda, ” Janganlah kamu kencing di air tenang, di mana kamu mandi pula di situ.” (H.R. Muslim), Masuklah ke dalam jamban (WC/toilet) dengan mendahulukan kaki kiri, ke luar dengan mendahulukan kaki kanan. (H.R. Tirmidzi), Sebelum masuk jamban, disunahkan membaca doa: Allahumma inni a’uu dzubika minal khubutsi wal khobaaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya kotoran dan dari segala macam yang membahayakan.). Khubutsi dan khabaaits oleh Ibnu Hibban al-Khaththabi, diartikan sebagai syaithan laki-laki dan syaithan wanita, Setelah keluar dari jamban disunnahkan membaca doa: Ghufronakal-hamdulillahilladzi adzhaba ‘anni adzaa wa ‘aafanii (Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkan aku.) (H.R. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah), Jangan berlama-lama dalam jamban karena hal itu merupakan suatu mudharat. Apabila sudah selesai hajatnya, secepatnya keluar dari jamban. (H.R. Nasa’i, Ibnu Majah), Tidak boleh menjawab salam ketika berada di dalam jamban. Cara menjawabnya cukup dengan isyarat suara (H.R. Muslim, Tirmidzi, Nasa’i), Jangan membaca dan membawa lafadz Allah dan Muhammad atau ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam jamban. (H.R. Nasai), Bila terpaksa buang air di tempat terbuka, jangan menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Beliau bersabda: ” Apabila seseorang kamu buang air (besar atau kecil) janganlah menghadap atau membelakangi kiblat…”

Bersuci secara asal-asalan menyebabkan adanya kotoran yang bersifat najis tertinggal pada tubuh atau pakaian seseorang. Jika orang itu shalat, sementara ada najis di badan atau pakaiannya, maka shalatnya akan tertolak. Itulah sebabnya dia disiksa dalam kuburnya.

Dampak bagi Kesehatan 

Masalah kesehatan lingkungan terutama sanitasi merupakan sebuah masalah serius yang masih dihadapi oleh Indonesia. Lingkungan dapat mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat karena dalam determinan kesehatan, lingkungan memiliki peran yang cukup besar untuk tingkat kesehatan masyarakat. Salah satu perilaku masyarakat Indonesia yang masih kurang dalam bidang sanitasinya adalah tingkat penggunaan jamban. 

Menurut data yang dipublikasikan oleh World Health Organisation, yang diperoleh dari sensus tahun 2010 menunjukkan bahwa Indonesia berada diurutan ke-dua di dunia sebagai negara dengan jumlah terbesar masyarakat yang melakukan buang air besar sembarang (WHO : 2012). Sekitar 17 persen rumah tangga pada tahun 2010 atau sekitar 41 juta orang masih buang air besar di tempat terbuka (UNICEF:2012). Hal tersebut dapat berdampak kepada kesehatan. Buruknya sanitasi ini dapat berakibat timbulnya penyakit seperti diare dan infeksi dari cacing. Diare pernah menjadi masalah yang berat di Indonesia, pada riskedas 2007 dijelaskan  bahwa penyakit tersebut merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi yaitu 31,4% dan pada balita sebesar 25,2% (Riskesdas:2007). 

Bila dilihat dari hubungan sanitasi dengan kejadian penyakit dan dampak kesehatan dapat dikatakan bahwa sanitasi khususnya buang air besar secara sembarangan memang dapat berdampak kepada kesehatan. 

Solusi Alternatif adalah Miliki Jamban 

Jamban merupakan suatu bangunan yang digunakan untuk tempat membuang dan mengumpulkan kotoran/najis manusia yang lazim disebut kakus atau WC, sehingga kotoran tersebut disimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman. Kotoran manusia yang dibuang dalam praktek sehari-hari bercampur dengan air, maka pengolahan kotoran manusia tersebut pada dasarnya sama dengan pengolahan air limbah. Oleh sebab itu departement kesehatan mengeluarkan syarat-syarat yang ditetapkan untuk penggolongan jamban sehat, antara lain: Tidak mencemari sumber air minum. Letak lubang penampungan kotoran paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur air minum (sumur pompa tangan, sumur gali, dan lain-lain). Apabila tanahnya berkapur atau tanah liat yang retak-retak pada musim kemarau, demikian juga bila letak jamban di sebelah atas dari sumber air minum pada tanah yang miring, maka jarak tersebut hendaknya lebih dari 15 meter; Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus. Untuk itu tinja harus tertutup rapat misalnya dengan menggunakan leher angsa atau penutup lubang yang rapat; Air seni, air pembersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah di sekitarnya, untuk itu lantai jamban harus cukup luas paling sedikit berukuran 1×1 meter, dan dibuat cukup landai/miring ke arah lubang jongkok; Mudah dibersihkan, aman digunakan, untuk itu harus dibuat dari bahan-bahan yang kuat dan tahan lama dan agar tidak mahal hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang ada setempat; Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang; Cukup penerangan; Lantai kedap air; Luas ruangan cukup, atau tidak terlalu rendah; Ventilasi cukup baik; Tersedia air dan alat pembersih. 

Tugas kita bersama untuk mempengaruhi penggunaan jamban pada masyarakat, lewat sosialisasi terkait jamban dari berbagai dukungan seperti petugas kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan dukungan keluarga.  Faktor pendidikan ternyata sangat mempengaruhi penggunaan jamban, semakin tinggi pendidikan yang dimiliki semakin tinggi pula kesadaran untuk menggunakan jamban. Pendidikan tentang memanfaatkan jamban yang baik dan sehat merupakan suatu proses mengubah kepribadian, sikap, dan pengertian tentang jamban yang sehat sehingga tercipta pola kebudayaan dalam menggunakan jamban secara baik dan benar tanpa ada paksaan dari pihak manapun).  

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi bagi para pegiat sosail masyarakatan yang peduli pada kesehatan lingkungan. Kamis (01/06/2017)

Posting Komentar