Mirisnya Pemerataaan Pembangunan di Pedesaan


Pertumbuhan ekonomi yang merata, diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembangunan manusia, namun kenyataanya masih banyak di wilayah pedesaan yang belum merasakan pertumbuhan ekonomi, sebagai contoh di salah satu desa di Kabupaten Brebes, sebut saja namanya Pedukuhan Kedungabad Desa Wlahar, Kecamatan Larangan, dan ada juga disalah satu dukuh di desa Pamulihan Kecamatan Larangan yakni dukuh kalibanteng, dua dukuh ini harus melewati sungai selebar 125 meter.

Warga hingga sampai saat ini masih menggunakan jalur transportasi utama ini, untuk menuju ke rumahnya atau ke ibukota kecamatan saja mereka harus menyeberangi sungai tersebut. Mereka jarang sekali bepergian hingga malam hari, belum lagi ketika sungai sedang meluap, warga lebih memilih berada di rumah daripada bepergian. 

Saat mendirikan bangunan, mereka pun memilih pada waktu musim kemarau, karena sungai surut, kendaraan berat membawa pasir dan bata bisa melalui sungai tersebut, hanya itulah pilihan hidup untuk membangun rumahnya. Pahit getir kondisi semacam ini sudah puluhan tahun, bahkan usulan yang diajukan untuk adanya jembatan baru terealisasi pada tahun 2016, namun sayang bangunan belum selesai, keburu hancur karena diterjang dahsyatnya arus air saat itu. 
Warga Kalibanteng dan Kedungabad
Menyebrangi Sungai Karena tidak punya jembatan penyebrangan

Saat warga mengirimkan ternaknya, seperti kambing, harus menggunakan perahu, kambing diikat dulu, kemudian secara bersamaan dengan pemiliknya naik perahu hingga sampai penyebrangan. setiap orang yang mau menyebrangi sungai tersebut harus merogoh kocek sekali jalan Rp 4 ribu, mereka benar-benar dibuat sabar untuk menikmati pertumbuhan ekonomi desanya. 

Saat memasuki dukuh tersebut, tampak jalan desa pun tidaklah mulus, naik motor kaya bergelombang, kondisi tanahnya masih berbentuk tanah, jalan utama tampak tertata batu blonos, dan saat malam hari pun kurang penerangan. 

Disaat pagi hari warga harus menempuh jarak beberapa kilometer menuju pasar songgom dan pasar larangan, mereka harus menyebrangi sungai, betapa sulitnya akses yang didapat. 

Belum lagi disaat ibu hamil yang mau melahirkan, tidak bisa terbayangkan bagi penulis, ketika usia kehamilan sudah menginjak 9 bulan dan mengalami kontraksi hebat, mereka harus siaga dan sigap untuk merujuk ke puskesmas terdekat, padahal jaraknya cukup jauh, belum lagi kondisi jalan desanya yang masih bergelombang. 

Inilah bukti bahwa pertumbuhan ekonomi betapa pentingnya, apalagi pemerataan pembangunan di pedesan, mereka bisa meningkat kualitas hidup dan ekonomi jika ditopang dengan jalur transportasi yang memadai dan juga ketersediaan fasilitas umum yang tersedia.

Semoga perhatian pemerintah desa dan Kabupaten mampu untuk menumbuhkan semangat gotong royong dan juga semangat untuk kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas dan kerja tuntas. Inilah catatan inspirasi sore penulis ketika melihat foto yang di upload oleh sahabat Warto Nur Alam salah satu aktivis Spek-Ham yang melakukan pemberdayaan masyarakat di Dukuh Kedungbandeng Desa Pamulihan Kecamatan Larangan, Jumat (19/05).


Posting Komentar