Keikhlasan Beramal Membawa Berkah


Kebiasaan umat islam di bulan suci ramadhan, mereka memperbanyak amal shodaqoh baik saat mengikuti pengajian di majlis taklim, saat melaksanakan ibadah sholat taraweh, ataupun saat menjalankan ibadah sholat jumat, mereka membawa beberapa pundi-pundi amal untuk disumbangkan melalui kotak amal yang sudah disediakan. Kotak amal ini biasanya berbahan baku dari kayu ataupun bahan lainnya. 
Kotak Amal Bekal Kita di Akhirat 

Pengurus majlis taklim, ataupun pengurus masjid akan membuka kotak amal tersebut dengan disaksikan oleh beberapa anggotanya, dan mereka mengambil kuncinya, lalu membuka kotak amal tersebut, secara bersama-sama mereka hitung satu per satu, dari mulai koin, bentuk lembar seribuan, dua ribuan, lima ribuan, puluhan, lima puluh ribu, hingga ada yang seratus. mereka dengan sabar dan mengurutkan uang tersebut, setelah terkumpul semua, lalu direkap dan muncullah berapa hitungan total yang didapat selama sepekan tersebut. Ternyata jika di masjid atau musholla dan majlis taklim terbanyak rupiah yang didonasikan dalam bentuk lembar dua ribu rupiah. Uang ini hampir berada di semua kotak amal yang ada, ini membuktikan bahwa keihlasan beramal dari jamaah sudah terlihat, dianggap nilai terkecil dari sebuah jariyah yang dimasukkan ke kotak amal tersebut. 

Jamaah jaman dulu memasukkan uang ke kotak amal hampir rata-rata dalam bentuk koin dan kotak amal yang dikasihkan dalam bentuk kaleng biskuit atau kaleng lainya. Namun seiring perkembangan jaman, sekarang jamaah merasa malu saat menaruh uang di kotak amal dalam bentuk koin, mereka lebih umum memberikan uang dalam bentuk kertas, ketika jatuh dalam kotak, tak akan mendengar bunyi “ting” lagi. 

Kita tahu, uang kotak amal atau kas masjid (baca: pemasukan) adalah uang milik umat. Mereka mengeluarkan hartanya untuk kepentingan syiar islam, dimana nantinya uang tersebut digunakan untuk maslahatul umat. Uang yang didapat dalam kotak amal jariyah bukanlah milik perorangan ataupun kelompok. Sehingga diperlukan manajerial yang baik agar uang tersebut efektif untuk kemaslahatan majlis taklim, tempat ibadah, oleh karena itu harus ada yang mengelola dana tersebut dengan transparan, muncullah laporan pemasukan dan pengeluaran yang disampaikan dan dipasang setiap selesai menghitung besaran uang jariyah yang diterima. 

Perlu diketahui, bahwa status kotak amal di masjid atau di majlis taklim saat pengajian dikategorikan sebagai amal jariyah, sehingga sah-sah saja menggunakan uang kotak amal asalkan untuk kepentingan maslahatul umat dan kemaslahan masjid, termasuk juga memberi "bisyarah" (penghargaan, salam tempel, upah) kepada segenap aktivis atau pihak-pihak yang berjasa memakmurkan masjid, seperti: imam sholat rawatib, muadzin, khotib, bilal, tim/seksi kebersihan, guru/kiai yang mengajar demi memakmurkan masjid dan lain sebagainya. Asalkan, jumlah nominal uangnya lebih sedikit dari upah pada umumnya. Hal ini seperti yang difatwakan Ibnu Shobbagh yang dinukil dari kitab "I'anatuth Tholibiin".

وافتى ابن الصباغ بأنه الاستقلال بذلك من غير الحاكم (قوله الاستقلال بذلك) أي بأخذ الأقل من نفقة أو أجرة مثله.

Kesimpulannya, uang kas hasil kotak amal masjid dan uang dari pemasukan lain yang diberikan untuk masjid adalah bukan benda waqaf. Statusnya adalah sodaqah (amal jariyah). Alasannya, pertama, ia bukan barang yang kekal seperti tanah, kedua, tidak ada shighat waqaf (ijab-qobul) pada saat uang itu diberikan untuk masjid.

Karena statusnya amal jariyah bukan wakaf, maka uang kotak amal yang diperoleh  dapat digunakan untuk segala hal yang berkaitan demi kemaslahatan masjid/pengajian untuk memakmurkan rumah Allah tersebut/syiar islam. Uang kotak amal yang berada dimasjid yang statusnya sedekah ini dapat dan boleh dipakai untuk, misalnya, membayar listrik, air, pembelian lampu dan segala kebutuhan masjid, termasuk untuk bisyarah para khatib, bilal, muadzin, petugas kebersihan, keamanan, guru/kiai/da'i di masjid, dan sebagainya. Wallahu A'lam.

Semoga inspirasi pagi ini bisa menambah wawasan bagi penulis, nilai ibadah akan bertambah apabila kita ikhlas, ketika beramaliyah karena pamer atau riya maka nilai pahalanya sudah berbeda. Pundi amal lembar kertas dua puluh ribuan ternyata lebih dahsyat jika pemberi itu ikhlas. Semoga dana yang terkumpul bisa untuk syiar islam dan orang yang telah memberikan amal jariyahnya mendapatkan ganjaran kelak di hari akhir sebagai shodaqoh yang tak ternilai harganya. Selasa (30/05)

Posting Komentar