Jadikan Anda Penuntun Umat

Kempek - Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj menyampaikan tausiyah di acara khaul Almarhum Buya KH. Ja'far Aqil Siradj (15/3) di hadapan ratusan jamaah santri putra dan putri ponpes khas kempek, para alumni, wali santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren. Kita hidup ini harus berperan serta, jadikan penuntun bagi umat, minimal menjadi suri tauladan bagi lingkungan sekitarnya. Janganlah selama kita hidup didunia ini hanya jadi penonton. 

Khaul KH. Jafar Aqil Siradj di Halaman Kediaman Ponpes Khas
Penulis memberikan makna begitu pentingnya sebuah makna pengorbanan dan perjuangan. Seseorang bisa jadi penuntun bukanlah sesuatu yang instan, di dalamnya ada sebuah proses yang harus diikuti oleh seorang penuntun. Proses belajar yang tekun dan juga pemahaman ilmu yang banyak. Di saat kita masih santri, maka tugas kita harus meraih prestasi belajar, selalu belajar, menghafal, dan juga mengikuti proses ujian madrasah dan proses belajar mengajar. Belajar pun harus sungguh-sungguh. Apa yang kita lakukan selama belajar pun ditempa oleh para ustad dan guru kita. Mereka silih berganti mengajari para santrinya, kita pun harus mau dan mampu mengikuti setiap tahapan belajar. Santri yang baik, apabila menjaga almamaternya dan ilmunya diamalkan dengan baik saat di pondoknya dan saat di masyarakat. 

Santri saat hidup di masyarakat. Tempaan ilmu saat belajar membuatnya harus mampu dan mau bertanggungjawab atas ilmu yang didapat. Mereka sekembalinya pendidikan, akan ditimpa kembali ilmunya di masyarakat, akankah ilmunya diterima dengan baik, ataukah pribadinya tidak diterima oleh masyarakat. Inilah sejatinya tantangan hidup bagi seorang yang berilmu. Disaat ilmunya diterima dengan baik, maka secara lambat laun kharismatik dan proses pengakuan pada dirinya semakin naik dan bertambah wibawa. Semua ucapannya menjadi tuntunan bagi jamaahnya, dan pihak jamaah pun menjadikan tingkah laku dan ucapan sang penuntun ini sebagai tokoh khatismatiknya. Disinilah makna ada yang tersirat dan tersurat. Makna tersirat penuntun bisa jadikan tokoh bagi masyarakatnya karena keilmuannya (sebagai pembeda) dan makna tersurat ada proses pengakuan dari masyarakat terhadap penuntun dirinya selama berinteraksi.

Semoga ini terjadi pada pembaca tulisan ini, apakah mau hidup bermasyarakat hanya menonton saja, atau kita bisa berfastabiqul khoirot dan mau untuk memberikan ilmunya kepada sesama umat yang membutuhkan. (Indahnya berbagi dan bermakna, by bahrul ulum)


Posting Komentar